Roti Kukus Oma An

Oma An selalu berjualan di UK Petra, dengan bekal kotak-kotak kue warna putih. Roti Kukusnya enak sekali :)

Comments (2)
Posted 9 days ago

A Miserable Time

This is the time when life seems so hard.
Skripsih is just one problem.
But yes, I feel so miserable.
It is not because of skripsih.
It is because her and her.

Life is not an easy path to walk through and the decision I have to make is not the easiest.

Comment (1)
Posted 11 days ago

Ngomongin Mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra

Tidak mengingkari jati diriku yang adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi UK Petra, maka aku ingin menuliskan tentang mereka. Setiap jurusan lain kalau ketemu dengan kami selalu berkata, "Ohhhhh.. Pantas." Pantas apanya coba? Kata mereka, "Ribut, ndak bisa diem, pakaiannya aneh-aneh." Hahaha.. Jadi ciri-ciri kami adalah ribut dan pakaiannya aneh-aneh?

Betul juga sih. Aneh-aneh memang mahasiswa Ilmu Komunikasi UK Petra. Mudah dikenali bahkan ketika jalan atau makan di seputaran kampus. Yah, setiap jurusan punya keunikannya sih. Contohnya jurusan teknik sipil, cirinya kulit sedikit gosong (hasil praktek ngukur jalan) dengan kaos-kaos gratisan camp-camp kampus serta berwajah lusuh (panas bo ngukur jalan). Jurusan manajemen, cirinya cina banget deh pokoknya dengan baju yang dipastikan beli di Pasar Atum dan tasnya sering kelihatan kecil-kecil (entah bawa apa). Jurusan DKV, cirinya mata berkantung dan hitam (begadangan mulu) pakaiannya kaos dan jeans dan cenderung agak ga karuan (ga sempet mikir baju ya, tugas numpuk) cenderung keren karena nge-art.

Bagaimana dengan jurusanku? Cenderung ngikut AGJ, anak gaul jakarta gitu deh, tren terbaru berusaha diikutin. Lelakinya pakai celana yang kecil banget di bawah dengan tampang di atas rata-rata. Lelaki di tempat kami biasanya kalau ga model, penyiar radio, presenter TV lokal atau mahasiswa abadi. Perempuannya juga sih, cenderung model atau penyiar atau presenter Surabaya bisa ditemukan di jurusanku. Kami gaul dan keren serta mantap *bias banget*.

Tapi sering banget kami jadi korban mode. Hahaha... Contoh paling menarik, kemarin waktu ujian tengah semester (yeah masih jaman loh ujian) ada seorang penjaga kelas yang malang. Pria itu sepertinya jurusan bukan ilkom, sipil atau infor dilihat dari pakaiannya. Menjaga kami anak ilkom, selamat ya lelaki, kau mampus memang. Lalu di tengah-tengah mengerjakan UTS, ada yang mengetuk. Ternyata seorang gadis ilmu komunikasi yang terlambat masuk kelas. Si Lelaki penjaga UTS cuma bisa diam dan gugup mengambil kertas-kertas. Mengapa? Hihihihi.. Gadis ilkom ini memakai make up super tebal (hampir putih anak itu) lalu memakai berlian-berlian kecil di sekeliling matanya. Huahahahaha.. Aneeeeh banget, udah telat ujian, dandan kaya ondel-ondel. Ndak aneh sih di jurusan kami, secara banyak dancer dan singer yang biasa dandan aneh-aneh gitu. Si gadis ini kupikir seorang dancer yang akan performance setelah ujian, makanya dia dandan pol gitu! Well, dandan pol-nya ndak bisa masuk @dandanpolfriday sih. Semoga berhasil lelaki jurusan lain, kau tidak tahu apa yang kau hadapi, gadis-gadis ilmu komunikasi.

Namun akan tetapi, di Ilmu Komunikasi kami belajar jadi orang yang berpikir dan menyuarakan pendapat kami. Menjadi pintar tanpa harus menjadi lusuh dan kumuh. Viva FIKOM!!

Comments (6)
Posted 24 days ago

Satepucino

Sate di dalam gelas. Ndak ada rasa kopinya.

Comments (6)
Posted 24 days ago

Bistik Lidah di Toko 'Oen' Malang

Comments (4)
Posted 27 days ago

Es Jagung di Boncafe Surabaya

Comments (3)
Posted 27 days ago

Ngomongin Boncafe dan Bakmie GM

Kamis malam (8/10), dikejutkan dengan account twitter Bakmie GM. Keren juga bakmie kesukaanku itu. Istilahnya, maju.

Jumat siang (9/10), aku makan di Boncafe. Tadinya mau makan ngewarung, lah kok terdamparnya di Boncafe. Beuh, ga hemat banget. Boncafe di daerah Gubeng Surabaya sedang mempercantik diri. Cafenya jadi lebih bagus.

Terus kepikir-pikir aja. Lebih bagus Boncafe tidak mencoba menyaingi cafe atau resto modern yang mengambil konsep dari Eropa, Amerika ataupun Australia, apalagi Jepang. Mengapa? Karena steak yang disajikan Boncafe bukan steak modern dengan cita rasa bule. Steak di Boncafe adalah steak oldies dengan cita rasa Indonesia. Tidak harus merubah diri kan, bisa mengembangkan. Di Surabaya, belum ada resto atau cafe yang mengangkat tema Indonesia Tempo Doloe dengan masakan jenis steak, kebanyakan tetap masakan Indonesia yang diangkat. Salah satu yang bisa dilakukan Boncafe adalah mengganti seragam pelayan. Diganti dengan kebaya encim. Apalagi bangunan Boncafe yang di dekat TP itu, cukup penjajahan style. Mengapa tidak, mengambil tema masa lampau dengan pelayanan masa kini?

Comments (7)
Posted 27 days ago

Ngomongin Skripsih #1

Iya, skripsih pake h. Kenapa begitu? Karena temanku di twitter yang bernama @iiiccchhhaaa menciptakannya ketika dia sedang berjuang. Sudah lulus anaknya, diriku yang gantian buat skripsih.

Perjuanganku menuju kemenangan masih panjang. Sekarang yang paling penting, menang terhadap perasaan malas. Malas sekali mengerjakan segala tetek bengeknya, meskipun aku tertarik dengan penelitianku. Merasa waktunya masih jauh, tenang-tenang. Menunda bukan hal yang baik dan tidak boleh jadi nama tengahku! Doakan saya!

Comments (4)
Posted 1 month ago

Ngomongin Dupa

Kadang orang yang tidak tahu selalu berpikir dupa itu hanya untuk sembahyangan agama tertentu. Saya dulu termasuk orang yang tidak tahu. Di kantor, ada kebiasaan menyalakan dupa wangi mawar. Supaya menyamarkan bau rokok yang diembuskan oleh kawan-kawan sekantor. Awalnya saya takut sama bau dupa. Aneh tho? Soalnya serasa mistis ya bo. Asep-asep wangi gitu, kaya datang ke dukun. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dan malah seneng sama wangi dupa mawar itu.

Sekarang di kos-kosan punya dupa bakar. Wanginya ylang-ylang. Embuh wangi apa itu. Sepastinya wangi ylang-ylang ini agak kewangian sampai sesak napas sama wanginya. Saya juga lebih ngerti kalau dupa, tidak hanya terbatas untuk sembahyangan tapi juga bisa dipakai untuk aromaterapi. Bukan barangnya yang salah tapi penggunanya.

Comments (0)
Posted 1 month ago

Ngomongin Keinginan Versus Kebutuhan

Dari pagi dihadapkan pada kepastian bayar tagihan. Mulai dari uang kos, uang sekolah sampe isi bensin. Lalu dihadapkan lagi pada kepastian tidak ada uang. Hahaha.. Jarang-jarang ya curhat kalau ga punya duit. Biarin, blog aku sendiri kok. Ndak minta dikasihani kok. Soalnya ga punya duitnya kesalahan sendiri. Ga bisa ngatur uang, pengennya senang-senang terus.

Kebutuhan ama keinginan selalu menang keinginan. Terutama dalam hidupku. Bukannya berhemat, malah sekarang aku minum di Starbucks sembari menunggu jam 3.55 untuk menonton Surrogates. Jadi sebenarnya ada uang atau tidak? Ada sih, tapi digunakan tidak sesuai urutan prioritas. Urutannya harusnya Uang Sekolah - Uang Kos - Uang Jajan. Tidak seperti sekarang, Uang Jajan - Uang Jajan - Uang Jajan.

Bagaimana sih memprioritaskan penggunaan uang kita? Mudah saja. Apa prioritas hidup anda sekarang ini? Sekolahkah? Bersenang-senangkah? Atau kawinkah? Terserah anda. Tapi prioritas praktis kadang berupa keinginan, prioritas teoritis baru berupa kebutuhan. Namun banyak kali kan kita ngomong ke orang lain kalau kita punya prioritas ini dan itu, yang mana biasanya prioritas teoritis. Pada akhirnya, apakah anda ingin menjadi manusia yang omongannya dapat dijadikan pegangan atau memang berkeinginan jadi manusia yang omongannya tidak dapat dipercaya? Nah itu kembali pada anda. Pada saya, rupanya saya sedang senang jadi orang yang omongannya tidak bisa dipegang.

Saya tidak bijak? Memang. Moral cerita? Jangan bodoh seperti saya.

Comments (0)
Posted 1 month ago