Jakarta, 1 Bulan Pertama

Akhirnya aku sudah 1 bulan di Jakarta ;) Tidak terasa dan waktu benar berlalu begitu cepat. Ngapain sih di Jakarta lama-lama? Well, sekarang aku pindah karena bekerja di Jakarta. Senang dan deg-degan menanti apa yang Tuhan siapkan buat aku. Selama di Jakarta sudah mengalami banyak sekali keriaan serta kebingungan. Bisa dibaca di tagar #AnakBaru kalau di twitter.

Waktu pindahan ke Jakarta ini begitu mepets. Awalnya dapat telepon di Kamis pagi jam 10 dari Dini (resepsionis), "Mbak, nanti jam 10 jadi ketemuan dengan Pak Kevin?" Aku di Sidoarjo dan cuma bisa bengong dan akhirnya bertanya, "Loh ini dari mana ya?" Lumayan kaget karena tidak ada bayangan sama sekali tentang Pak Kevin. Ternyata hari itu aku dijadwalkan untuk wawancara ulang dengan Pak Kavin. Gludak gluduk! Akhirnya setelah ngobrol sana-sini, aku minta wawancaranya diundur jadi Senin. Itu berarti aku punya 3 hari untuk mempersiapkan diri. Eh, 2 hari deng, soalnya aku Minggu siang sudah di Jakarta dan sudah memulai perjalanan panjang hidupku. 

Senin, langsung deh wawancara kedua dan langsung masuk kerja hari itu juga. Bertemu dengan banyak orang menyenangkan. Bekerja di bidang yang diinginkan. Bersyukur banget bisa mendapatkan itu semua. Tidak semua orang loh bisa dapat kerja dengan begini cepat di bidang yang dia inginkan. Apalagi teman sekantornya menyenangkan semua. Meskipun banyak yang masih heran dengan kemedokanku. Bagaimana tidak medok kalau masih fresh from the oven Sidoarjo gini. Hihihi...

Sekarang sudah 1 bulan aku di Jakarta. Sudah ngapain saja?
  1. Bertemu dengan teman-teman KopdarJakarta yang keren banget! Suportif dan bantuin banget perpindahan hidupku. Terutama @chikastuff @fairyteeth @goenrock yang menemaniku ke sana ke mari tidak jelas :P
  2. Ikutan Nonton Bareng Bola di Blitz Megaplex
  3. Ikutan ulang tahunnya @eliabintang dan kemudian nyasar bersama @ichanx :P
  4. Ke Festival Jajanan Bango
  5. Ikutan SoMay di Coffee Cabin ;)
  6. Ke Balagan, Circus of the World dengan gratis karena dapat dari http://plasa.com
  7. Nonton @lisadepe menyanyi di konser Tribute to Sinatra
  8. Main ke Brightspot untuk makan Red Velvet Cupcake yang famous itu
  9. Ikutan makan-makan makanan unik di Bazaar Jalansutra
  10. Mengalami keriaan Jakarta Big Sale
  11. Ke cafe dan mall ini itu
  12. Dibantuin banyak hal tentang kehidupan keras kota Jakarta sama @rindut
Dan hari ini akan ke #pinoditaTU yang sudah dinanti dari berbulan-bulan sebelumnya.

Semua yang aku sebutkan di atas, mana mungkin dapat terlaksana kalau aku masih di Sidoarjo? Cuma bisa membaca dari tweet teman-teman tanpa bisa ikutan di lokasi. Beberapa foto bisa dilihat-lihat di Flickr > Collection Jakarta

Kadang ada penyesalan seperti, "Mengapa saya tidak berada di Jakarta sejak 1 tahun lalu atau sekalian kuliah di Jakarta?" Dan masih menyesalinya dan tidak berusaha menghibur diri dengan berkata, "Rencana Tuhan." Karena aku masih belum bisa lihat hasil dari rencana Tuhan itu apa jadi kalau aku menghibur diri itu sama dengan aku menipu diriku. Memang menyesal kok kenapa harus menipu diri dan menyesal itu tidak dosa selama tidak dibiarkan berlarut-larut kan ;)

Tapi bulan pertama ini aku boros banget. Naik taksi sana sini, belanja ini itu. Maafkan aku, wahai Ibu. Tapi sekarang sudah mengerti jalanan jadi bisa mulai naik Bajaj dan Busway. Mengapa tidak langsung naik Bajaj? Karena aku lebih percaya dengan supir Taksi dan kemedokanku ini pasti akan langsung dideteksi supir Bajaj dan aku tidak mau ditipu. Serta aku terbiasa pakai mobil pribadi dan supir selama di Sidoarjo - Surabaya. Ya gini deh, tipikal anak manja yang dikit-dikit parno.

I love my life, my new church and my new friends! Plus ada Butet di Jakarta ;)
Loading mentions Retweet

Comments [6]

Baby Aslan

Aku sedih. Meskipun Aslan bukan saudaraku atau anakku, tapi aku ga bisa membayangkan kalau aku harus kehilangan seseorang yang aku bawa kemana-mana selama 9 bulan. Aku sedih.

               

Loading mentions Retweet

Comments [4]

Pelajaran Hidup dari SATC 2

Percayalah bahwa tulisan ini bukanlah review film Sex and The City. Tulisan ini merupakan keprihatinanku terhadap budaya memberi tip di Indonesia, Surabaya khususnya. Bahasa Indonesia dari TIP apa ya? Uang lelah atau uang rokok atau uang capek. Itu yang paling mendekati sepertinya. Dalam salah satu adegan SATC 2, Charlotte bertanya kepada Miranda mengenai cara memberi tip. Kemudian ketika Carrie mendengar bahwa butlernya hanya dapat bertemu dengan istrinya setiap 3 bulan sekali karena kesulitan keuangan, Carrie tidak segan-segan memberi tip yang besar. 

Sering sekali kita segan ketika memberi tip. Segan karena kita merasa belum terlayani dengan sempurna. Sempurna itu apa sih? Kita yang sering kali mematok standar begitu tinggi tapi kita sendiri tidak memberi kontribusi kepada standar tersebut. Misalnya, kita tidak mengucapkan kata "tolong" atau "terima kasih" kepada pelayan yang membantu kita. Aku tahu kalau itu adalah tugas mereka dan mereka dibayar oleh pemilik restorannya untuk melakukan itu semua. Hanya saja, mari perlakukan mereka sebagai manusia dan bukan sebagai budak. 

Sisi buruknya tip adalah pelayan akan memperlakukan kita dengan manis apalagi kalau tip diberikan sejak di pintu masuk. Cerita temanku, di tempat kerjanya ada orang yang sejak dari pintu masuk sudah memberikan tip dan tipnya tidak sedikit. Aku terus terang tidak suka dengan motivasi seperti itu namun apa dapat dikata? Manusia membutuhkan uang dan seringkali dengan menjadi budak seseorang maka uang akan dapat lebih mudah diperoleh. Apalagi biasanya orang yang suka memperbudak orang lain, suka memberi banyak tip. Soal ini mari dibahas lain waktu. 

Tulisan ini dibuat untuk membuat kita dapat menyadari bahwa memberi tip tidak akan membuatmu miskin. Justru menjadi kaya. Aku percaya bahwa ketika kita menabur, kita akan menuai. Ketika kita memberi tip, anggaplah sebagai menabur benih. Bagaimanpun juga kita dibantu oleh orang-orang tersebut dan mereka memang membutuhkan uang tambahan. Menurutku, gaji yang didapat mungkin tidak besar dan mereka memang berharap banyak pada tip. Soal bagaimana uang itu digunakan oleh mereka, itu adalah urusan mereka. Selama motivasi kita baik dan benar. Berilah dengan kebaikan hati dan bukan mengharap imbalan.

Terlalu menggurui ya? Iya sih :P Inilah yang aku pikirkan selama nonton SATC 2. Berpikir bahwa betapa pentingnya tip bagi orang yang menerimanya dan orang yang memberi. 

PS. BAJUNYA AMA SEPATUNYA GA NAHAN DEH NEK! PENGEN!
Loading mentions Retweet

Comments [3]

Berpikir Untuk Diri Sendiri

Beberapa hari ini mengalami perasaan melankolis karena akan meninggalkan kampus sebagai mahasiswa. Mungkin akan kembali, bisa jadi temannya dosen atau hanya pengunjung. Kalau jadi mahasiswa lagi sih rasanya masih lama. Lucu ketika aku sadar bahwa aku measa melankolis karena akan menginggalkan kampus. Kupikir momen itu akan menjadi momen paling membahagiakan tapi malah jadi momen yang aneh. Aneh dan sedih.
Sebentar lagi, aku tidak bersembunyi di balik kata-kata, "Namanya juga masih mahasiswa dan masih belajar." Tidak bisa lagi mengharap uang jajan karena merasa masih mahasiwa. Aih, kayanya ini bagian paling berat. Masih belum siap menginggalkan gaya hidup santai agogo dan harus bertanggung jawab sama hidup sendiri. Kedengarannya menakutkan.

Sekarang dengan support orang tua, aku masih berantakan banget ngatur duitnya dan masih terlunta-lunta di akhir bulan. Apa kabar kalau sendirian menanggung diri ya? Terus terang aku kagum dengan orang-orang yang setelah lulus langsung menggunting kartu kredit yang dibayar oleh Papanya atau tidak mau lagi dijatah uang jajan oleh Mamanya. Kagum to the max. Secara diriku sama sekali ga punya dorongan untuk melakukan itu semua. In my mind, lah kalau orang tua masih mau ngasih ya kenapa ditolak? Mungkin juga dari awal orang tuaku bukan orang tua yang suka ngatur-ngatur anaknya. Jadi tidak merasa ada obligasi harus taat dan tidak membantah kalau diberi uang sama orang tua.

Uang dari orang tua adalah uang yang memang dengan rela diberikan oleh orang tua bukan karena si orang tua berharap apa-apa dari kita. Itu sih konsepku. Makanya ga merasa punya dorongan untuk membuktikan diri atau dorongan untuk melepaskan diri dari orang tua atau apalah. Kok malah merasa, semakin gede, semakin ga tahu mesti memutuskan apa kalau belum konsultasi sama Mama. Padahal kayanya dulu ga begini deh. Secara dulu membangkang dari Mama dan ga mau dengar. Tapi setelah melakukannya, baru sadar kalau apa yang Mama bilang dulu itu benar dan keputusanku salah. Sekarang jadi mudah sekali ragu untuk mengambil keputusan sebelum konsultasi sama Mama. Aneh kan, mestinya makin gede makin merasa punya pemikirannya sendiri dan lain sebagainya. Ini makin gede makin takut mikir sendiri. God help me.

Is that ok?

Loading mentions Retweet

Comments [6]

Loading mentions Retweet

Comments [3]

Focus to the Voice, not to the Noise

Fokuskan dirimu pada VOICE
Bukan pada NOISE

Setiap kita berlayar ke sebuah tujuan
Gangguan-ganggung akan muncul bagai riak-riak
Terkadang riak-riak itu bisa jadi gelombang besar
Jangan takut karena kapalmu tidak dirancang untuk hancur
Jangan hilang semangat
Jangan hilang tujuan
Suara itu memanggil

Fokus pada Suara
Bukan pada Gangguan

- Karena Harapan Itu Sungguh Ada dan Jerih Lelahmu Tidak Akan Sia-Sia -

Loading mentions Retweet

Filed under  //   Alderina   Think  

Comments [5]

Mengapa Marah Kalau Tidak Lulus?

Lagi liat Metro TV yang merekam kemarahan siswa SMU. Kemarahan dan tangisan karena tidak lulus. Saya bisa mengerti, sangat bisa mengerti. Mengerti perasaan orang yang tidak lulus.

Tapi kenapa ya menurut siswa yang tidak lulus itu, yang salah adalah guru dan kepala sekolah mereka? Kemudian mereka marah.

Pastinya kalau marah, kebanyakan contoh di tv dan dimana-mana kalau keadaan tidak sesuai dengan kemauan, maka solusinya adalah marah dan sebisa mungkin merusak. Tentu diawali dengan menyalahkan orang lain.

Sedih :(

Lebih sedih lagi statement Menteri Pendidikan. Tapi aku belum dapat sumbernya, tulung dicek dan ricek ya. Jadi gini kira-kira pernyataannya : tingkat ketidak lulusan tinggi karena pengawasan tahun ini lebih ketat dari pada tahun lalu. Kesannya kan, siswa yang lulus di tahun kemarin-kemarin itu, lulus karena tidak diawasi dengan baik sehingga kemungkinan nyonteknya lebih tinggi. Hiks :(

Nb. dapat linknya dari Kitn : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/24/138105/88/14/Tingkat-Kelulusan-...

Loading mentions Retweet

Comments [5]

Sendirianpun, Kamu Benar.

Ditemani lagu Andien yang super duper mellow ini. Sambil memandang poster baru yang diterangi lampu belajarku. Diriku jadi berpikir banyak hal. Eh, satu hal saja sih.

Sulit juga ya kalau orang tidak mau ditegur. Konten tegurannya adalah untuk kebaikannya sendiri. Malah marah dan kemudian menyebarkan berita bohong. Padahal api disulutnya, namun asap dianggap bukan tanggung jawabnya.

Menyesalkan tindakan banyak orang yang berpikir dirinya tidak salah dan ketika dijelaskan, tidak bisa melihat dimana permasalahannya. Sebuah nasehat atau masukan dapat diputar balikkan sedemikian rupa. Capek. Mengurus orang begitu itu capek.

Awalnya yang tidak puas adalah dirinya sendiri. Semua orang yang tidak puas, pasti akan memiliki kecenderungan untuk marah kepada banyak hal. Bahkan hal-hal benar, bisa jadi sumber kemarahannya. Sudah lebih dari 2 bulan, diriku melihat orang-orang seperti ini. Di lokasi dan komunitas yang berbeda-beda.

Aku juga bukan manusia sempurna. Sering iri dan berpikir negatif tentang segala sesuatu. Tapi aku tidak pernah berusaha meracuni orang lain untuk ikut denganku. Masalahku adalah masalahku. Aku mau menyelesaikannya langsung dengan sumber masalahku. Mengajak teman tidak akan menyelesaikan masalahku. Tapi kecenderungan manusia untuk cari teman. Supaya merasa benar karena didukung lebih banyak orang. Padahal kalau memang benar, tanpa dukungan siapapun, kamu pasti benar.

Capek lihat banyak orang dari berbagai komunitas online dan offline, bersikap seperti itu. Sibuk cari teman dan pembelaan diri :( I'm simply tired :(

Loading mentions Retweet

Filed under  //   Alderina   Think  

Comments [8]

Queen of Random

Mari saya tunjukkan betapa randomnya saya. Ini isi pikiran saya, malam ini. Ditulis berdasarkan urutan waktu. Dipikirkan hanya dalam 5 menit :

Kita banyak berharap ini dan itu.

Banyak yang terjadi tapi kita ga bisa ngomonginnya. Lost of words istilahnya. Saking shockednya sama keadaan itu. Betapapun

Aku pengen jadi kaya Kim Kardashian minus video gituannya. Asik aja gitu, punya muka flawless dan mata gede tapi rambut hitam. Terus keren karena punya reality show sendiri dan rumahnya gede. Dapurnya bagus.

Resep cookies kaya subway dapat dimana ya? Dalemnya itu loh, chewy bangettttt!!!!! Hedeeehh..

Pengen mixer Kitchen Aid. Warna apa ya? Buanyak warnanya loh. Ada yang pastel juga.

Boneka sapi ini kenapa sih roknya selalu lepas-lepas? Ribetawati bener jadi boneka.

Itu bab 4.1 isinya apa ya? Sekilas bla bla bla. Visi misi dimasukin berarti ya? #skripsi nanti total brapa lembar ya?

Pengen canon ixus yg 120 itu. Warna item blejet.

Mana ya ipod nanokyuuu? Belum dikirim. Aman ga ya pengirimannya? IPOD CUYYYY

Loading mentions Retweet

Comments [5]

Facebook Like di Posterous

Wah, sekarang kasih tanda LIKE atau jempol tidak perlu bersusah payah :D Seperti yang diumumkan di Mashable kalau FB semakin melebarkan diri dan menggurita dimana-mana. Maka Posterous cepat-cepat deh mengadopsi "like". Seperti yang sudah muncul di alderinagracia.com ini loh :

Artikel di bawah ini perlu dibaca teman-teman, supaya bisa memahami dan menjaga diri terutama masalah keamanan pribadi :)

Facebook Open Graph: What it Means for Privacy

At Facebook’s F8 Developer Conference today, the company fleshed out its plans to become the social center of the web. With the new Open Graph API and protocol and the ability to integrate websites and web apps within your existing social network, the platform will become more robust than ever before.

The potential for this new technology is great — which is why partners like Yelp (Yelp

), Pandora (Pandora

) and Microsoft have already jumped on board. But what does all of this interconnected data mean for user privacy?
 
Privacy has always been a bit of a thorny issue for Facebook and its users. In November of 2007, Facebook’s Beacon advertising experiment resulted in a class-action lawsuit, and Facebook’s big privacy overhaul in December provoked immediate criticism. The company’s more recent change to privacy settings for Facebook apps has been better received, but the user response to Mark Zuckerberg’s “public is the new social norm” stance has already forced the company to overhaul its privacy policy again — this time with user input.

Now that sites and apps can better integrate directly with Facebook (Facebook

) in more than just a tangential way, the potential for privacy issues grows substantially.

What Is Changing?

In the past, apps that accessed data from the Facebook APIs could only store that data for 24 hours. This meant that apps and app developers would have to download user information day after day, just to keep up with the policy. Now the data storage restriction is gone, so if you tell an app it can store your data, it can keep it without worrying about what was basically an arbitrary technical hurdle.

While this might sound scary, it doesn’t actually impact how developers can use user data, just how long they can store it. Again, many developers were just hacking around this policy anyway, so users shouldn’t notice any changes.

Facebook is also getting rid of its Facebook Connect branding. Instead, Facebook login modules will be available to site owners, and users can not only log in or sign up for a service, but can also see how many of their friends have also signed up for the site.

Now, this new feature is cool — as is the universal Likes and customized content additions — but it also makes what you designate as “public” potentially more public.

While the login boxes and activity feeds that appear on websites will be customized for each user (meaning that what I see on a page will differ from what fellow reporter Jenn Van Grove sees), this information is potentially more easily viewable than it was before. It’s not like your Facebook friends couldn’t see this information in the past, it’s just now a lot more contextual and available in more places.

Privacy Will Become the User’s Responsibility

I took a look at the different documentations of the Open Graph API and the different social plugins, and gathered that the data collection and overall privacy settings don’t differ from what has already been available. Again, what changes is how that data can be displayed to different people and how it can be integrated in different ways.

Nevertheless, it is imperative that users who have concerns about privacy make sure they read and understand what information they are making available to applications before using them. Users need to be aware that when they “Like” an article on CNN, that “Like” may show up on a customized view that their friends see.

Public no longer means “public on Facebook,” it means “public in the Facebook ecosystem.” Some companies, like Pandora, are going to go to great lengths to allow users to separate or opt out of linking their Pandora and Facebook accounts together, but users can’t expect all apps and sites to take that approach. My advice to you: Be aware of your privacy settings.

What isn’t yet clear is if there will be any granular permissions for public data. For instance, I might want to share that I “Like” a CNN.com article with a certain group of people, but not make it public to my entire social graph. For now, users need to assume that if you do something that is considered public, that action can potentially end up on a customized stream for everyone in your social graph.

How Facebook Can Avoid Getting Burned

Because there aren’t really any changes in policy with the Open Graph system, Facebook will likely avoid any massive privacy violations; after all, if you agreed to make something public, it’s public. However, as Google learned with Google Buzz, users aren’t always aware of their default privacy settings.

Facebook can offset a lot of confusion and concern by doing a good job of educating users about the meaning of “public” and how the personalized feeds will work on various websites.

Developers can also help by making what information they collect and what information can be shared throughout the social graph more accessible and easier to understand.

Right now, it really doesn’t look like Open Graph will have any technical changes to Facebook user privacy. That said, the nature of how public information can be linked across different sites is now more robust, which makes it that much more important for the privacy-concerned to read the fine print.

What do you think of the privacy implications with Open Graph? Let us know!

 

Loading mentions Retweet

Filed under  //   Alderina    Internet   Think  

Comments [0]