Saya mungkin yang kurang sensitif sama orang lain… Atau saya hanya tidak suka dengan arogansi masyarakat yang tidak mau berpikir lebih jauh. Mengatasnamakan kemiskinan untuk memperoleh kekayaan. Buat saya itu sama dengan mencuri. Mencuri status dan kemudian mencuri hak, yang seharusnya untuk orang miskin diberikan kepada orang yang mengaku miskin.
Gara-gara ikut liputan ke Polwitabes Surabaya kemarin, saya jadi mikir keras. Pada saat itu ada pertemuan antara warga stren kali Jagir Wonokromo dengan pihak-pihak terkait (pemkot, satpol PP, LSM) yang difasilitasi oleh Bina Mitra Polwiltabes Surabaya. Saya datang terlambat, tepat setelah beberapa orang mulai panas dan hampir saling pukul. Luar biasa sekali, di dalam ruangan banyak polisi dan mereka sudah mau saling pukul. Tapi keadaan dengan segera ditangani jadi hampir pukulnya tidak sampai pukul-pukulan. Pada saat saya datang, suasana masih sedikit panas. Seorang pria sedang berteriak-teriak meminta supaya pemerintah kota memikirkan keadaan suku mereka. Saya berpikir, loh kok tiba-tiba kesukuan? Memangnya seseorang digusur karena sukunya? Hobi deh ya manusia-manusia ini berpikir demikian. Merasa lemah dan membawa-bawa isu sensitif seperti SARA.
Diskusi atau forum itu berlanjut. Saya masih ga paham, ini sebenarnya forum apa. Tanya sama mas sebelah saya, ini forum apa dan tujuannya apa? Dijelaskan kalau ini sebenarnya sebuah forum untuk mencari solusi untuk warga Stren Kali Jagir yang tergusur. Setelah mengikuti diskusi cukup lama, yang tertangkap oleh saya malahan warga yang berusaha menjelek-jelekkan walikota dan menyalahkan pemerintah. Mereka menganggap pemkot tidak berpihak kepada rakyat kecil, pemkot tidak becus karena yang duduk di pemkot bukan ahli. Ada benarnya, di beberapa hal pemkot Surabaya memang masih kurang baik pekerjaannya. Tapi kalau dilihat dari tata kota, Surabaya makin indah saja. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Kota Surabaya Tri Risma Harini, sudah kita kenal dengan kesuksesannya sebagai kepala dinas pertamanan dan Ibu Risma itu arsitek lulusan ITS. Jadi saya percaya dengan recana kota Surabaya akan sesuai dengan kaidah-kaidah arsitektural.
Lama-kelamaan diskusi berputar-putar tidak jelas, saya jadi makin sangsi dengan kemampuan perwakilan warga. Menyebalkan karena mereka membawa ayah dari anak perempuan yang terkena kuah panas bakso hingga mengalami luka bakar, 67% tingkat parahnya. Well, ini juga jadi catatan khusus buat saya. Bagaimanapun cara satpol PP menangani gerobak baksonya, sang Ayah dan Ibu kemana? Mengapa tidak menjaga anaknya? Sudah tau ada gusuran dan obrakan yang begitu besar, kok anaknya tidak dijaga. Menurut beberapa orang, anak itu diletakkan di gerobak baksonya. DUH! Itu anakmu, mbok segera digedong dan diambil? Yah mungkin saja, ketika akan menggendong anaknya, petugasnya ga peduli makanya si Ibu tangannya juga kena siraman kuah panas.
Saya kemudian berpikir, ah orang-orang ini maunya apa sih? Tidak jelas dan menyalah-nyalahkan saja. Lalu tercerahkan melalui pembicaraan dengan beberapa wartawan yang sudah mengikuti diskusi ini dari awal. Sebenarnya masalah utama mereka : tempat jualan. Apalagi? Tho, setiap mereka mendapatkan tempat tinggal baru. Semua dapat tempat tinggal di Rusun Randu. Jadi masalah rumah tidak dipusingkan tapi masalah makan sehari-hari? Mereka kebetulan adalah orang-orang yang bekerja untuk makan hari itu. Baca sedikit berita yang saya peroleh dari SuaraSurabaya.net ini
Beberapa warga stren kali Jagir setelah digusur, ada yang langsung memilih tinggal di rumah susun (rusun) Randu. Meski tidak sampai menjadi gelandangan, Sabtu (16/05) mereka mengaku kehilangan mata pencaharian.
Satu diantara warga stren kali Jagir itu adalah SUNANDAR SUADI, 62 tahun. Sebelumnya, laki-laki asal Krian tersebut menempati sebuah bangunan diatas stren kali Jagir. Meski keterampilannya adalah sebagai pekerja bangunan, tetapi kepandaiannya merawat tanaman justru memberinya banyak pekerjaan.
“Diperumahan-perumahan dekat Jagir, saya biasanya jadi pembersih rumput taman, atau merawat aneka bunga dan tanaman milik warga disana. Sekarang pindah kerusun Randu, jelas saya kehilangan pelanggan. Nggak punya penghasilan lagi sekarang,” ujar SUNANDAR SUADI saat ditemui suarasurabaya.net.
Beberapa pemikiran saya :
- Memangnya tidak bisa ya membersihkan rumput dengan cara : jalan/sepedaan ke rumah warga perumahan di sana? Perumahannya kan tidak digusur.
- Tidak semua di sana adalah orang menengah ke bawah, beberapa memiliki mobil.
- Tukang bakso yang anaknya menjadi korban, bisa pindah-pindah jualannya.
- Seingat saya di jagir wonokromo itu ada juga bengkel dan segala macamnya, jadi tidak semua miskin.
Semua hal itu mungkin asal mau usaha dan mau berpikir. Warga kota sekarang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Aku bagaimana, tidak perduli orang lain. Dicerahkan oleh senior saya, masalah terutamanya adalah : setiap orang punya hak untuk hidup dan itu adalah masalah HAM. Well, betul sekali tapi apakah harus hidup di tempat yang peruntukkannya adalah untuk taman? Stren kali bisa mengakibatkan banjir kalau banyak warga yang hidup di sana, sampah yang mereka buang sembarangan dan masalah macet karena semakin lama mereka buka lapak semakin ke jalan. Awalnya warung, kemudian jadi gubuk, lama-lama dipasang batu bata lalu terakhir pakai beton. Luar biasa! Sekarang ketika digusur marah-marah dan merasa miskin, merasa digusur karena sukunya, merasa pemkot tidak membela.
Akhir diskusi ditutup dengan beberapa kata dari seorang Ibu Polwan, sepertinya kabag Bina Mitra. Berbicara dengan suara yang enak dan kata-kata yang meneduhkan hati. Masalahnya adalah kurang sosialisasi, warga tidak diajak biacara hati ke hati, warga tidak diberi pengetahuan yang menyeluruh mengapa diadakan penertiban stren kali. Setuju bu, tapi kalau warganya GA-MAU-TAU-SAYA-MAUNYA-JUALAN-DI-SINI kan repot. Lagipula sehari sebelum penggusuran, ada sebuah koran yang mendatangi warga dan menanyakan apakah mereka tidak siap pindah? Jawaban mereka : penggusuran hanya gertak sambal!
Coba lihat foto rusun yang diberikan kepada mereka di suarasurabaya.net
