Perempuan Modern?
Lagi mau nonton KD nih. Hooh, Krisdayanti datang ke Sidoarjo. Hihihi.. Sidoarjo sudah punya hotel dan ballroom jadi bikin event lebih enak. Tuh kan, ga gitu remote lah yaw!
Nah, di sebelahku ada seorang perempuan. Pakai BlackBerry™ (–”), bulu mata palsu, dress tali, hak tinggi dan banyak sekali perlengkapan yang menunjukkan dia ‘maju’. Posisinya di sebuah perusahaan cukup tinggi. Maju kalau kemajuan ditandai dari berbagai aksesori yang dipakai dan jabatan di pekerjaan. Tapi sewaktu ngobrol, betapa kagetnya aku karena dia tidak maju. Mengapa kusimpulkan demikian?1. Ternyata masih menganut memukul anak untuk mendidik. Padahal anaknya sudah cukup besar.
2. Teriak-teriak di meja makan karena anaknya duduk di seberang meja.
3. Ada asisten rumah tangga yang duduk di sebelahnya. Bukan art dia loh ya. Dia ngomong ke art itu dengan kurang sopan. Agak gimana gitu yaaaaa… 4. Sewaktu ngobrol tentang nambah anak, dengan jelas dia berkata : waktu anakku baru yang cewek, ya pasti nambah lah.
Hai!Agak kasihan aku melihat perempuan bergelimang materi begini masih punya cara berpikir serba feodal yang ditandai tidak bisa bicara sopan kepada anak dan asisten rumah tangga.Bermodal, mestinya menjadikan kita tidak bersikap primitif dalam memperlakukan orang lain.
Hai!Agak kasihan aku melihat perempuan bergelimang materi begini masih punya cara berpikir serba feodal yang ditandai tidak bisa bicara sopan kepada anak dan asisten rumah tangga.Bermodal, mestinya menjadikan kita tidak bersikap primitif dalam memperlakukan orang lain.
Vicky : bermodal dan tak bermodal menurutku sama saja. Fokusnya pada pola pikir perempuan bukan pada modal. Tapi memang kita cenderung menyesali tindakan orang yang bermodal dari pada yang tidak bermodal. Padahal tindakannya sama. Bisa jadi kadang si tidak bermodal dianggap wajar melakukan ini dan itu, tapi ketika hal yang sama dilakukan si bermodal maka hal tersebut akan jadi masalah besar. Mengapa kira-kira?
Vicky : bermodal dan tak bermodal menurutku sama saja. Fokusnya pada pola pikir perempuan bukan pada modal. Tapi memang kita cenderung menyesali tindakan orang yang bermodal dari pada yang tidak bermodal. Padahal tindakannya sama. Bisa jadi kadang si tidak bermodal dianggap wajar melakukan ini dan itu, tapi ketika hal yang sama dilakukan si bermodal maka hal tersebut akan jadi masalah besar. Mengapa kira-kira?