Beberapa hari ini mengalami perasaan melankolis karena akan meninggalkan kampus sebagai mahasiswa. Mungkin akan kembali, bisa jadi temannya dosen atau hanya pengunjung. Kalau jadi mahasiswa lagi sih rasanya masih lama. Lucu ketika aku sadar bahwa aku measa melankolis karena akan menginggalkan kampus. Kupikir momen itu akan menjadi momen paling membahagiakan tapi malah jadi momen yang aneh. Aneh dan sedih.
Sebentar lagi, aku tidak bersembunyi di balik kata-kata, “Namanya juga masih mahasiswa dan masih belajar.” Tidak bisa lagi mengharap uang jajan karena merasa masih mahasiwa. Aih, kayanya ini bagian paling berat. Masih belum siap menginggalkan gaya hidup santai agogo dan harus bertanggung jawab sama hidup sendiri. Kedengarannya menakutkan.
Sekarang dengan support orang tua, aku masih berantakan banget ngatur duitnya dan masih terlunta-lunta di akhir bulan. Apa kabar kalau sendirian menanggung diri ya? Terus terang aku kagum dengan orang-orang yang setelah lulus langsung menggunting kartu kredit yang dibayar oleh Papanya atau tidak mau lagi dijatah uang jajan oleh Mamanya. Kagum to the max. Secara diriku sama sekali ga punya dorongan untuk melakukan itu semua. In my mind, lah kalau orang tua masih mau ngasih ya kenapa ditolak? Mungkin juga dari awal orang tuaku bukan orang tua yang suka ngatur-ngatur anaknya. Jadi tidak merasa ada obligasi harus taat dan tidak membantah kalau diberi uang sama orang tua.
Uang dari orang tua adalah uang yang memang dengan rela diberikan oleh orang tua bukan karena si orang tua berharap apa-apa dari kita. Itu sih konsepku. Makanya ga merasa punya dorongan untuk membuktikan diri atau dorongan untuk melepaskan diri dari orang tua atau apalah. Kok malah merasa, semakin gede, semakin ga tahu mesti memutuskan apa kalau belum konsultasi sama Mama. Padahal kayanya dulu ga begini deh. Secara dulu membangkang dari Mama dan ga mau dengar. Tapi setelah melakukannya, baru sadar kalau apa yang Mama bilang dulu itu benar dan keputusanku salah. Sekarang jadi mudah sekali ragu untuk mengambil keputusan sebelum konsultasi sama Mama. Aneh kan, mestinya makin gede makin merasa punya pemikirannya sendiri dan lain sebagainya. Ini makin gede makin takut mikir sendiri. God help me.
Is that ok?
2 June 2010 at 6:21 am
hal itu wajar dik (aku panggil adik yah coz aku kyk jauh lebih tua deh dari kamu :p). waktu aku kluar dari kampus (sebagai mahasiswa dan asisten) tentunya berat sekali. pertama berat ninggalin tempat dimana kenangan2 baik maupun buruk terjadi. kedua ada tanggung jawab yg besar telah menunggu di luar sana (maksudnya kerja). kenapa aku bilang tanggung jawab besar karena orang tua telah membiayai sekolah kita dari kecil mpe besar tentunya kepengen liat anaknya jadi “orang”. itu yang susah. mungkin kita lulus dengan predikat cum laude namun hal itu belum tentu menjadi jaminan kesuksesan di dalam dunia kerja.
2 June 2010 at 4:13 pm
i feel you ron!!!
3 June 2010 at 7:56 am
sharon, selamat udah lulus jadi sarjana!!! aku dulu paling sedih ninggalin SMA
3 June 2010 at 6:06 pm
Ary : setuju kalau gelar di kampus tidak menentukan kesuksesan. Tapi kalau seseorang sukses meraih cum laude, tentu ada hal baik yang dimiliki orang itu kan?Menny : tapi kan lo sekarang dah punya kerjaan
ASIk!Hanny : Makasih hanny
aku justru senang ninggalin SMA. hihihi.. sungguh berbeda kita ini.
27 June 2010 at 5:16 pm
haloo..salam kenal aja ya
1 July 2010 at 12:14 am
tapi skrg udah ngantor khan? jd bisa bikin duit sendiri #ihir