Kembali Ke Pelukan Ibu Tiri

Katanya, Jakarta itu kejamnya kaya Ibu Tiri. Bisa jadi pernyataan itu memang benar. Sudah 2 minggu aku menjalani hidup sebagai perantau di Jakarta (lagi) dan mendapati Jakarta makin menyeramkan tapi juga membahagiakan.

Aku senang sekali bisa kembali ke kota yang ruwet tapi sangat aku kenali. Kota dengan beribu masalah tapi punya segudang kenangan manis. Kota yang katanya tidak ramah tapi semua teman-teman baikku ada di sini dan semua orang saling mengangukkan kepala, menyapa satu sama lain di pelbagai kesempatan.

Kadang aku heran dengan orang-orang yang belum bisa melihat betapa menyenangkannya Jakarta. Karena ada banyak kebaikan yang terselip di halaman-halaman kota ini.

Saat kena macet, ngobrol dengan Pak Supir taksi mengenai apa yang terjadi di sekitarnya. Bisa juga naik TransJakarta yang murah dan aman serta cukup bebas hambatan. Atau manfaatkan ojek, siapkan sabun muka kalau perjalanan jauh ya ;)

Perhatikan semua pelayan di restaurant, perhatian dan tangkas. Juga senyum balik atau membalas ucapan terima kasih kita. Hal seperti ini tidak mudah kita temui di tempat lain. Tidak semua orang yang kamu temui saat berlibur itu memang seramah itu, cobalah tinggal lebih lama dan kamu akan mengetahui bagaimana watak asli tempat yang kamu tinggali.

Namun aku mengakui kalau Jakarta memang makin terasa tidak aman. Orang makin agresif saat menyetir. Cerita penembakan, penusukan dan kemarahan tersebar di berbagai channel. Menakutkan? Iya.

Aku pikir satu-satunya cara supaya kita bisa terhindar dari bahaya adalah dengan menyiapkan diri untuk keadaan terburuk. Bersiaga malam hari dan selalu waspada saat di jalan. Selain itu, lebih banyak bersabar supaya Jakarta semakin banyak penyabarnya dari pada pemarahnya.

Ada beberapa orang yang penasaran aku ngapain di Jakarta. Aku selalu jawab dengan, “Liburan dulu sampai akhir Desember 2013. Tapi juga sambil volunteer di Wujudkan.”

4 thoughts on “Kembali Ke Pelukan Ibu Tiri”

  1. Yang menyenangkan dan kebaikan kebaikan kecil itu tertutup oleh semua keburukan dan kesemrawutan Jakarta. Sejak tahun 2000 merantau ke Jakarta, semakin tahun memang semakin gak nyaman dan aman. Makanya tahun ini memilih menetap di Serpong. Sepertinya kesehatan jiwa langsung membaik sejak pindahan:)

    1. Nah, sepertinya ini juga dipengaruhi value yang dipegang. Sebagai single dan butuh orang lain di sekeliling, aku rupanya mau berkorban dari kenyamanan asal punya orang-orang yang bisa diajak main.

Any thoughts?