You've got the best of both worlds You're the kind of girl who can take down a man, And lift him back up again You are strong but you're needy, Humble but you're greedy And based on your body language, And shoddy cursive I've been reading Your style is quite selective, though your mind is rather reckless Well I guess it just suggests that this is just what happiness is Hey, what a beautiful mess this is It's like picking up trash in dresses Well it kind of hurts when the kind of words you write Kind of turn themselves into knives And don't mind my nerve you could call it fiction But I like being submerged in your contradictions dear 'Cause here we are, here we are Although you were biased I love your advice Your comebacks they're quick And probably have to do with your insecurities There's no shame in being crazy, Depending on how you take these Words I'm paraphrasing this relationship we're staging And what a beautiful mess, yes it is It's like picking up trash in dresses Well it kind of hurts when the kind of words you say Kind of turn themselves into blades And the kind and courteous is a life I've heard But it's nice to say that we played in the dirt Cause here, here we are, Here we are Here we are [x7] We're still here What a beautiful mess, this is It's like taking a guess when the only answer is "Yes" Through, timeless words and priceless pictures We'll fly like birds not of this earth And tides they turn and hearts disfigure But that's no concern when we're wounded together And we, tore our dresses and stained our shirts But its nice today. Oh the way it was so worth it.
Saya merasa seperti gadis yang digambarkan oleh Mraz. Membuat begitu banyak luka untuk orang di sekeliling saya. Kalau memang orang yang saya lukai bisa berpikir seperti Mraz, maka saya ucapkan, "Terima kasih Tuhan." I'm a mess but I'm a beautiful mess :D
Apakah anda tahu bahwa ada istilah netiket di dunia internet? Pasti tidak tahu, karena anda :
Mentag orang dengan sembarang di dalam poster atau foto yang tidak terdapat orang yang bersangkutan.
Membuat orang lain kesal dengan berbagai hal yang anda postingkan di wall seseorang itu.
Untuk Anda ketahui, ternyata di dunia internet ada NETIKET atau etiket berinternet. Mengejutkan bukan? Berinteraksi di internet juga membutuhkan etiket. Anda perlu belajar, jangan asal serobot dan berpikir Anda sudah benar.
Saya mungkin terdengar jahat. Tapi percayalah bahwa saya pada awalnya hanya ingin diam melihat semua ketidak teraturan yang sudah terjadi di facebook saya. Tapi lama-kelamaan, rupanya semakin banyak orang yang tidak punya etika dan tidak tahu etiket berinternet.
TOLONG, di setiap tempat yang Anda datangi pasti ada etiketnya. TOLONG dipelajari.
Maaf kalau saya menyingung.
*masuk bunker*
Update: The Oatmeal menyerukan suara hatiku dan kemudian membuat komik "How to Suck at Facebook". Lumayan kasar sih dan aku nggak segitu betenya. Check this out!
ickle and Larde adalah tokoh di My Milk Toof. Semalam sebelumnya, beberapa koprollers lagi gosipin si ickle and Larde ini. Eh, besoknya pas maintenance, dipakai sama developer teamnya Koprol :D I love em!
Aku ini sebenarnya jatuh cinta pada tokoh imajinasi yang aku ciptakan.
Mengapa aku jadi begini? Jatuh cinta pada tokoh yang aku ciptakan. Tapi dia begitu baik dan penyayang.
Sebenarnya, yang begini ini yang harus diakhiri. Mengakhiri selalu lebih sulit dari pada memulai.
Betapa menyenangkannya imajinasi. Betapa menyakitkannya membunuh dia.
Dan di sana, aku sempurna. Tidak tersakiti dan tidak menyakiti.
Kebiasaan buruk yang selalu menyenangkan. Menghidupkan kemudian membunuhnya.
Apabila dia hidup terlalu lama, aku jadi tidak sehat.
Mari menciptakannya. Mari menyayangnya. Mari menari bersamanya. Mari membunuhnya.
Hari ini akhirnya membuat Banana Muffin. Resep nyontek dari website Muffin Recipes tapi ga semuanya aku ikutin sih.
Ingredients list: 1/2 cup butter, room temperature. 1 cup granulated sugar. (Agak kebanyakan nih mending pake 3/4 cup) 2 large eggs. 2 large bananas, ripe, mashed. 1 teaspoon vanilla extract. (Ga ada vanilla jadi ga pake vanilla) 2 cups all-purpose flour. 1 teaspoon salt. (Aku ga pake garam) 1 teaspoon baking powder. 1/2 teaspoon baking soda. 1/2 cup chopped pecans or walnuts. (Aku ga pake kacang) Aku tambahin 1 tsp cinnamon powder
Instructions:
Grease 12 muffin cups or line with paper muffin liners.
Cream butter and sugar with an electric hand-held mixer until light and fluffy. (Aku pake garpu aja jadi ga ada yg fluffy)
Beat in eggs, one at a time, beating after each addition. Add bananas and vanilla and beat until smooth.
Mix together the flour, salt, baking powder, and baking soda (ga pake garem sih).
Stir flour mixture into butter mixture, alternating with the sour milk or buttermilk. Stir until dry ingredients are moistened then gently stir in chopped nuts (no nuts in mine).
Spoon banana muffin batter into prepared muffin cups or liners.
Bake at 400°F for about 15-18 minutes, or until tops are lightly browned (well, mine is gosongi).
Hasilnya? Enak!!! Lebih baik pakai pisang Raja atau pisang yg dijual di supermarket itu (cavandish kalau ga salah), daripada pisang lain. Aku pakai pisang mas, ga keluar sih sepetnya. Kebanyakan gula, jadi kemanisan mending pakai 3/4 cup dan kebanyakan cinnamon mending 1/2 tsp. What else? Mari makan! Dimakan sambil minum teh yuk yak yuk.
Btw, bikin-bikin Banana Muffin ini gara-gara baca terus di Milis Natural Cooking Club yang lagi Banana Week :D
Sekarang Sharon lagi ikutan proyek menarik. Proyeknya masih berhubungan dengan internet dan akan bisa dinikmati kamu semua :D Proyeknya namanya Goorme. Tidak sabar sekali untuk mempersembahkan Goorme ke teman-teman :D AIH! *lelompatan*
Sementara Goorme didandanin dan dibenerin kanan kiri, teman-teman boleh loh follow account Twitter Goorme. Loph yu! *lambai-lambai*
Katanya Carrie Bradshaw, "Women come to New York for the two L's: Labels and Love." Tapi diriku tidak untuk ngomongin soal label yang merek baju atau sepatu atau tas. Aku pengen ngomongin soal bagaimana kita ini memandang dunia kita dengan label.
Kita melabeli teman kita yang sipit dan berkulit kuning dengan Cina/Tionghwa. Padahal aku punya teman yang hitam dan matanya belo tapi juga Tionghwa. Wajar sih, secara dari kecil kita diajar untuk melakukan labeling alias memberi label. Memberi label memang memudahkan kita mengenali suatu objek. Tidak bisa membayangkan anak kecil yang tidak bisa melabeli, bagaimana dia mengenali benda yang bulet berkilau-kilau, punya dua sisi, biasanay di satu sisi bisa ditulisi, gepeng dan tipis adalah CD atau cakram. Atau bahwa yang berambut hitam dan suka tersenyum setiap pagi padanya adalah mamanya bukan papanya karena papanya berambut cokelat. Label membantu kita mengenali.
Tapi bahaya kalau label jadi harga mati.
Beberapa waktu terakhir saya berpikir kalau Label itu yang membuat dunia jadi tidak tenang. Jadi meresahkan dan tidak menyenangkan. Satu sama lain melabeli dengan cara yang salah. Label yang biasa-biasa dibumbui sehingga jadi tidak biasa. Wajar saja karena pengalaman masa lalu (field of experience?) itu juga mempengaruhi pelabelan. Bahaya lagi ketika label itu diturunkan. Anak beranak, cucu bercucu jadi labelnya sama terhadap satu orang. Padahal manusia itu selalu berubah.
Kadang, kita ini bilang kita berubah jadi maju tapi label yang kita bawa-bawa di otak ga juga berubah jadi maju. Sigh.
Tambahannya nih ya. Sebenarnya sama seperti kata Carrie, kita datang ke dunia ini mencari 2L : Label dan Love atau Cinta. Kita mau dapat label positif dan tentunya kita pengen dicintai. Nah, bagiku label positif akan datang dari orang yang mencintai kamu. Mungkin kitanya sangat perlu menambah kadar cinta dalam hidup kita. Sehingga ketika kita melihat orang lain, kita akan memberi label yang positif ke dia :D A good solution eh?
Eh, kena juga demamnya. Dasar gadis labil! Hihihihi.. Gara-gara di blogsphere dan di twitterverse demam #365shots, saya ikut-ikutan.
Awalnya si @anakcerdas alias Pitra yang bikin #365shots tahun ini. Jadi dia berniat mengambil 1 foto setiap hari di tahun 2010 ini dan kemudian mempublishnya di blog dia. Kemudian langkah foto-foto Pitra diikuti oleh lumayan banyak blogger. Pitra memang keren, trendsetter lah istilahnya. Ga ada yang ngalahin dah Pitra ini. Single loh ladies! Harus buruan, banyak yang suka.
Nah, saya posting #365shots di Imagi Saya :D lokasi keren untuk memajang foto. Di Flickr juga ada kok :D Selamat kunjung-kunjung ya! Nb. Utk Pitra, saya tidak menerima karangan bunga tapi menerima ajakan jalan gratis ke luar negeri atau uang tunai. Untuk apa katamu? Karena telah kusanjung-sanjung engkau di sini. Hihihihi..
Lumayan banyak waktu yang saya habiskan untuk berpikir mengenai internet. Pada prinsipnya, saya memang sering mengulang dan merevisi hasil pemikiran saya tentang internet ini. Internet ini apa sih? Seperti sebuah dunia tapi juga bukan. Menurut saya, internet merupakan salah satu produk manusia bukan sebuah dunia. Dunia, ya dunia yang kita tinggali ini. Internet merupakan salah satu alat yang membuat dunia menjadi mudah. Terus terang, saya tidak terlalu setuju kalau ada yang menyebut internet adalah dunia maya. Mungkin karena saya sering sekali nongkrong-nongkrong di internet ini, jadi merasa tersinggung kalau dibilang apa yang di internet itu maya. Maya menurut KBBI adalah 1ma·yaa hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dl angan-angan; khayalan; (bacanya di bahtera). Jadi internet itu dunia yang tampaknya ada tapi nyatanya tidak ada? Pertanyaan saya sekarang, apakah tulisan saya ini angan-angan? Sama saja dengan artikel di koran yang setiap pagi kita terima dong, hanya tulisan.
Banyak orang yang terlalu melarikan diri ke internet mungkin, sehingga muncullah istilah dunia maya atau jagat maya. Nah, saya juga tidak setuju dengan orang-orang demikian. Saya mungkin salah satunya, tapi saya tidak mau terus-menerus lari. Pada momen ini, saya memutuskan bahwa bagi saya internet merupakan produk manusia yang membantu saya mencapai beberapa hal dengan lebih mudah. Bukan sebuah dunia tempat saya melarikan diri. Lagi pula, maya dimananya sih? Saya ini nyata loh, gagasan saya juga nyata (senyata gagasan yang diucapkan pada berbagai percakapan), orang yang memberi komentar di postingan ini nantinya juga nyata. Jadi sekarang, maya dimananya?
Hanya sebagai sedikit renungan. Saya mungkin sudah dapat mengerti internet ini karena sudah lumayan lama bergaul, meskipun setiap hari saya selalu dikejutkan dengan hal-hal baru. Bukti bahwa manusia itu sedemikian kreatif untuk memproduksi berbagai hal yang mempermudah hidupnya. Saya dapat memahami bahwa masih ada banyak orang jahat di luar sana. Tidak hanya di internet tapi malah di kehidupan sehari-hari. Banyak orang jahat yang kemudian memakai internet untuk meneruskan kejahatannya. Saya sedang belajar mengurangi eksistensi saya di internet. Kelihatannya gagal ya? LOL
Saya teringat seorang teman di Twitter, dengan id @pinot yang menasehati saya untuk tidak mempublikasikan keadaan rumah saya. That is a very good advice. Kadang tergoda untuk mempublikasikan keadaan rumah saya, tapi demi keselamatan pribadi. Belajar dan pintar-pintar memilih apa yang bisa dipublikasikan dan apa yang tidak bisa dipublikasikan. Semoga saya bisa.