Bangkok, Setelah 8 Bulan

Tidak terasa sudah 8 bulan aku tinggal di negeri orang, Thailand. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa melewati 6 bulan dan dengan cepat akan lari terbirit-birit kembali ke Indonesia. Rupanya aku terlalu cepat merendahkan diriku. Ada banyak pelajaran hidup yang aku dapat dengan tinggal di Bangkok.

“When one door is closed, don’t you know that many more are open”
― Bob Marley

Mas Bob ini benar sekali. Aku adalah orang yang sangat tidak suka apabila tidak punya teman. Aku suka punya teman dan berkenalan dengan orang baru lalu memperkenalkan orang-orang itu kepada orang lain. Aku juga menjadi konektor. Tentu hal ini tidak bisa terjadi saat pertama kali pindah ke Bangkok. Diperkenalkan oleh Papah @glennmars ke @Dini_Tarman yang lalu mengenalkan pada Dhita dan Petra.

Aku sign up ke berbagai layanan pertemanan seperti Meet Up dan Internations. Dari Meet Up aku mengikuti berbagai kelompok seperti kelompok hidup lebih sehat, kelompok makan minum, kelompok nonton dan banyak kelompok lain, termasuk kelompok start up dan designer meet up. Dari Internations, aku ikut luncheon bersama perempuan-perempuan dan mereka selalu punya gathering setiap bulannya.

Tidak berhenti di sana, aku mengaktifkan diri di Couchsurfing. Mengingat sekarang aku punya apartemen sendiri sehingga bisa memberikan ruangan untuk orang-orang yang sedang berliburan di Bangkok. Bangkok ini sangat banyak pendatang karena posisinya ada di tengah dan menjadi penghubung untuk negara-negara Asia Tenggara. Sungguh menyenangkan mendengarkan cerita-cerita orang yang datang berbagai budaya dan mengetahui bagaimana mereka bersikap.

Dari semua kegiatan itu, aku mulai bertemu dengan satu orang yang kemudian memperkenalkan dengan orang lainnya. Ada juga saat-saat dimana saat sudah berkenalan dengan seseorang, orang tersebut tidak bisa dihubungi. Rasanya seperti dikhianati dan aku merasa tidak berharga karena orang itu tidak mau lagi berurusan dengan aku. Tapi itu semua hanya perasaan. Orang-orang itu aku anggap adalah pintu  yang tertutup. Tapi seperti yang Mas Bob bilang, saat sebuah pintu tertutup, kamu tidak pernah tahu ada berapa pintu lain yang terbuka. Tentu saat aku melihat pintu yang tertutup, aku tidak tahu jumlah pintu lain yang terbuka.

Aku baru bisa melihat pintu-pintu yang terbuka itu setelah 8 bulan di Bangkok. Selama 2 minggu terakhir ini, setiap malam aku pasti bertemu dengan teman-teman. Sama seperti ketika berada di Jakarta. Tidak pernah terpikir bahwa aku akan mengalami ini semua. Aku punya grup yang setiap Rabu malam akan berkumpul dan mencari tempat seru untuk makan atau mimican. Yup, Bangkok ini lokasi tepat buat perempuan mimican dengan gratis setiap malam, asal mau traveling ke lokasi-lokasi penyedia mimican gratisan atau Ladies Night.

Aku sangat bersyukur karena setelah 8 bulan, hidup tidak seberat yang aku pikir di bulan pertama. Tidak ada hal yang bagus saat pintu tertutup di depan hidungmu, namun berikan waktu dan pintu lain yang terbuka akan mulai terlihat…

11 thoughts on “Bangkok, Setelah 8 Bulan”

  1. Menyenangkan klo bs berteman dengan orang baru seperti kamu, bulan 9 aky kebangkok dear ada event dsn..boleh dong meet up,..

  2. Salam kenal ya aku bulan Mei ini mau ke Bangkok
    Mau tanya boleh ya..aku pesawat balik balinya AirAsia pagi2 bgt flight jam 6pagi kalo ke AirPort donmuang nya jam 3:30 pagi ada taxi gak ya?aku akan nginep di H residence (silom area 600meter dari BTS surasak) taxi Bangkok 24jam gak sih?trims byk ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge