Berpikir Ulang Mengenai Internet
Lumayan banyak waktu yang saya habiskan untuk berpikir mengenai internet. Pada prinsipnya, saya memang sering mengulang dan merevisi hasil pemikiran saya tentang internet ini. Internet ini apa sih? Seperti sebuah dunia tapi juga bukan. Menurut saya, internet merupakan salah satu produk manusia bukan sebuah dunia. Dunia, ya dunia yang kita tinggali ini. Internet merupakan salah satu alat yang membuat dunia menjadi mudah. Terus terang, saya tidak terlalu setuju kalau ada yang menyebut internet adalah dunia maya. Mungkin karena saya sering sekali nongkrong-nongkrong di internet ini, jadi merasa tersinggung kalau dibilang apa yang di internet itu maya. Maya menurut KBBI adalah 1ma·ya a hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dl angan-angan; khayalan; (bacanya di bahtera). Jadi internet itu dunia yang tampaknya ada tapi nyatanya tidak ada? Pertanyaan saya sekarang, apakah tulisan saya ini angan-angan? Sama saja dengan artikel di koran yang setiap pagi kita terima dong, hanya tulisan.
Banyak orang yang terlalu melarikan diri ke internet mungkin, sehingga muncullah istilah dunia maya atau jagat maya. Nah, saya juga tidak setuju dengan orang-orang demikian. Saya mungkin salah satunya, tapi saya tidak mau terus-menerus lari. Pada momen ini, saya memutuskan bahwa bagi saya internet merupakan produk manusia yang membantu saya mencapai beberapa hal dengan lebih mudah. Bukan sebuah dunia tempat saya melarikan diri. Lagi pula, maya dimananya sih? Saya ini nyata loh, gagasan saya juga nyata (senyata gagasan yang diucapkan pada berbagai percakapan), orang yang memberi komentar di postingan ini nantinya juga nyata. Jadi sekarang, maya dimananya?
Hanya sebagai sedikit renungan. Saya mungkin sudah dapat mengerti internet ini karena sudah lumayan lama bergaul, meskipun setiap hari saya selalu dikejutkan dengan hal-hal baru. Bukti bahwa manusia itu sedemikian kreatif untuk memproduksi berbagai hal yang mempermudah hidupnya. Saya dapat memahami bahwa masih ada banyak orang jahat di luar sana. Tidak hanya di internet tapi malah di kehidupan sehari-hari. Banyak orang jahat yang kemudian memakai internet untuk meneruskan kejahatannya. Saya sedang belajar mengurangi eksistensi saya di internet. Kelihatannya gagal ya? LOL
Saya teringat seorang teman di Twitter, dengan id @pinot yang menasehati saya untuk tidak mempublikasikan keadaan rumah saya. That is a very good advice. Kadang tergoda untuk mempublikasikan keadaan rumah saya, tapi demi keselamatan pribadi. Belajar dan pintar-pintar memilih apa yang bisa dipublikasikan dan apa yang tidak bisa dipublikasikan. Semoga saya bisa.
Comments (15)
Emm tapi barusan ngecek ke bahtera, definisi virtual kok kayaknya kurang tepat (dan rasanya kurang lengkap juga sih)...
Belum lama ini daku sempat baca blog entry yang bagus dari @miund, perhaps you wanna read it, di sini : http://miund.com/mumbles2/?p=700#more-700
Mungkin kamu sebenarnya sudah lebih lama di dunia blogging daripada aku, jadi kalau ternyata sudah pernah baca, mohon maaf sebelumnya yah.. :D
Numpang lewat aja nih.. ;)
Kamu nyata kok, sher, nyata banget :D
*komen gak asik*
*diam2 mencari nomer handphone*
@anno : yup yup. Silahkan dicari, kalau ga disms biasanya aku ga angkat atau balas :P hihihi...
@pinkparis : Yup! kalau dulu, masih ga ada yang kenal malah enak. Kita bebas aja, ga ada yang kenal juga. Namun seiiring dengan seringnya kopdar, maka makin dikenallah kita.
Kalau Sharon memang juag terpikir untuk jadi blogger yang berguna bagi orang lain sih :D
@Hendrik W : sangat menghargai pendapat Hendrik. Terutama bahwa internet masih belum dapat dinikmati semua orang karena biayanya. Btw, bisa minta tolong jangan spam di blog saya? Terima kasih :D
@efahmi : kamu bikin aku LAPER :((
"Jepang saja bisa penetrasi sampai 90%. Itu sebabnya kita akan dorong lewat kebijakan supaya Telkom mampu," kata Cahyana Ahmadjayadi, Kepala Balitbang SDM Depkominfo, saat berbincang dengan detikINET di Bandung.

toh, kita masih perlu privasi ntuk hal2 tertentu kan
oh ya,
salam kenal :)