#NilaSetweet – Kongkow Bareng Anak Twitter

Kemarin malam, diundang oleh McCann Digital, beberapa anak Twitter mengadakan kumpul bareng di Meradelima. Niatnya sih acaranya santai tapi bertopik. Nyatanya acaranya memang santai dengan topik soal “Salah Setweet, Berakibat Panjang.” makanya acara kemarin berhashtag #NilaSetweet.
Continue reading #NilaSetweet – Kongkow Bareng Anak Twitter

Mau Kemana di 2014?

Kesempatan baru untuk mengisi jurnal jalan-jalan terbuka lebar! Mau kemana dan apa di 2014?

  1. Wujudkan bisa banyak dikenal orang sehingga banyak Kreator dengan proyek seru yang masuk dan banyak Suporter menyumbangkan uangnya, demi industri kreatif Indonesia!
  2. Memperbanyak menyelam supaya pintar mengambang tanpa harus merasa harus berenang dan kalau ke tempat bagus bisa lihat yang bagus-bagus beneran.
  3. Ke Banda Neira.
  4. Ulang tahun dapat hadiah seperti yang aku inginkan. List biasanya dipublish di Pinterest sejak berbulan-bulan sebelumnya.
  5. Ikut kelas menari tradisional dengan rajin dan tabah.

Coba 5 ini saja dulu bisa dijalankan.

The End of 2013

Super glad to end this 2013. It was a painful year.

Beberapa orang menyatakan bahwa tidak baik menyesali apa yang sudah terjadi dalam hidup. Namun saya berpendapat sebaliknya. Bahwa menyesali apa yang sudah terjadi tidaklah salah, hanya saja jangan terbawa dalam arusnya dan belajarlah dari hal tersebut. Aku menyesali banyak hal yang terjadi di 2013. Beberapa tak terelakkan. Beberapa dapat diprediksi dan seharusnya dihindari saja sejak awal.

Semoga di 2014, lebih banyak kebahagiaan dan jalan-jalan.

Looking forward to 2014.

Kembali Ke Pelukan Ibu Tiri

Katanya, Jakarta itu kejamnya kaya Ibu Tiri. Bisa jadi pernyataan itu memang benar. Sudah 2 minggu aku menjalani hidup sebagai perantau di Jakarta (lagi) dan mendapati Jakarta makin menyeramkan tapi juga membahagiakan.

Aku senang sekali bisa kembali ke kota yang ruwet tapi sangat aku kenali. Kota dengan beribu masalah tapi punya segudang kenangan manis. Kota yang katanya tidak ramah tapi semua teman-teman baikku ada di sini dan semua orang saling mengangukkan kepala, menyapa satu sama lain di pelbagai kesempatan.

Kadang aku heran dengan orang-orang yang belum bisa melihat betapa menyenangkannya Jakarta. Karena ada banyak kebaikan yang terselip di halaman-halaman kota ini.

Saat kena macet, ngobrol dengan Pak Supir taksi mengenai apa yang terjadi di sekitarnya. Bisa juga naik TransJakarta yang murah dan aman serta cukup bebas hambatan. Atau manfaatkan ojek, siapkan sabun muka kalau perjalanan jauh ya 😉

Perhatikan semua pelayan di restaurant, perhatian dan tangkas. Juga senyum balik atau membalas ucapan terima kasih kita. Hal seperti ini tidak mudah kita temui di tempat lain. Tidak semua orang yang kamu temui saat berlibur itu memang seramah itu, cobalah tinggal lebih lama dan kamu akan mengetahui bagaimana watak asli tempat yang kamu tinggali.

Namun aku mengakui kalau Jakarta memang makin terasa tidak aman. Orang makin agresif saat menyetir. Cerita penembakan, penusukan dan kemarahan tersebar di berbagai channel. Menakutkan? Iya.

Aku pikir satu-satunya cara supaya kita bisa terhindar dari bahaya adalah dengan menyiapkan diri untuk keadaan terburuk. Bersiaga malam hari dan selalu waspada saat di jalan. Selain itu, lebih banyak bersabar supaya Jakarta semakin banyak penyabarnya dari pada pemarahnya.

Ada beberapa orang yang penasaran aku ngapain di Jakarta. Aku selalu jawab dengan, “Liburan dulu sampai akhir Desember 2013. Tapi juga sambil volunteer di Wujudkan.”

A Goodbye Letter

“‘If I were to send you a letter, this would be it’

I guess this could be both a goodbye and a hello
a soft goodbye because I know this letter marks the last time you will ever think of me
And a hard hello because you cannot simply fathom the amount of missing you that has taken place
In this hollow heart of mine.

Because every night I discover you in a new and brilliant way
Your name is painted in a delicate red under the tight seams of the wallpaper I put up after you left.
The ripped up poetry pages you kept are still in my trash can since it has not yet been a full week
Since I destroyed every physical memory of you.
The roses you bought me which were intended to help stifle the pain of our breakup
only renew it in the most hateful way possible.

Obviously I still think of you though
You are the chemical ingredients which make me feel miserable
You are the cracks in my bones which grow with every passing hour
You are the hour, the minute and the second hand
Always chipping away at the few hours of sanity I have left.
And you are the rose petals in my tea
Marking the death of another far off love that couldn’t have been quite as extraordinary as ours.

Yet I find myself thinking
If I could just let go of all of these things then maybe
Just maybe, I can let go of you too.

So I have decided to leave
to leave this apartment which is only a graveyard of short-lived memories
And to move to another country
And maybe then I will finally be happy.
I will write more and read more, paint and take more photographs, and hopefully fall in love, one last time.
But if that makes you sad just know this;
I will still find you in some way, whether it be the touch of the cold rain or silent kiss of soft snow
or even the whisp of sheets which surround me as I sleep
And it will be these moments, these soft goodbyes and hard hellos
Which I will live for
When my next lover becomes eternally reckless with my crystal heart.”

— Grayson Herrg, “If I were to write you a letter this would be it”

Found in Langleav.com, my new favorite TumblrBlog. She is a poet, artist and author with many praises. On top of those all, she has a fashion label Akina.

“I don’t care what you think about me. I don’t think about you at all.”

Coco Chanel

– Seandainya aku punya kemampuan ala Coco Chanel, aku pasti sudah kaya raya. Oh well.

Generasi Piring Plastik

“Similarly, the two are quick to fall back on the idea that “it just isn’t working.” While there are cases where two people are inherently incompatible, ours is a generation that prefers to replace our relationships rather than fix them. Between our high expectations and plenty-more-fish-in-the-sea mentality, we are too quick to move on from a relationship if we are not on exactly the same page from the get-go, or if we encounter periods of significant difficulty. Any long-term couple has weathered uncertainty, annoyance, confused feelings, and misunderstandings. Endurance and patience are infinitely more valuable to a relationship than the ability to cut and run. “

~ Farah Mohammed in Policymic

Masih tentang project #40DaysOfDating yang sepertinya saya suka sekali sampai sering banget dibahas. Di akhirnya, Jessica dan Timothy memutuskan untuk mengakhiri. Keduanya memang sering sekali menyebutkan bahwa deadline 40 hari itu memberikan tekanan.

Pada saat Miss Lai Lai berbagi tulisan ini, aku langsung merasa tulisan dari Farah Mohammed ini begitu benar. Generasi Plastik. Generasi yang sukanya sekali pakai langsung buang. Ngga mau repot-repot cuci piring atau gelas sehingga lebih baik beli piring dan gelas plastik untuk pesta di rumah. Padahal piring dan gelas bukan dari plastik punya keindahan dan keanggunannya sendiri. Beda manusia memang beda cara memahami ini semua. Ingatlah bahwa kritik ini berlaku buatku juga.

Makan Masakan Rumah

Aku tidak pernah menyangka bahwa makan masakan rumah itu begitu menyenangkan, sampai akhirnya harus hidup sendiri karena memutuskan untuk merantau.

Semalam, aku diundang teman. Seorang India yang sudah tinggal di Thailand sejak kecil karena orang tuanya harus bekerja di Thailand. Anak expat. Punya pembantu dari India yang memasakkan : ayam kari, daal, roti, mango chutney dan tentu nasi serta SAMBEL yang mirip kaya sambel di Indonesia. Ayam karinya mengingatkanku pada ayam rica sehingga sungguh aku bahagia. Sungguh sangat bahagia!

Menariknya saat aku sampai di rumahnya, dia tidak langsung meminta Didi (si embaknya namanya didi) untuk masak tapi menunggu sampai kami memutuskan untuk makan. Jadilah dari keputusan untuk makan sampai beneran makan membutuhkan waktu agak lama karena nunggu Didi masak dulu. Rupanya ini tradisi orang India. Semua fresh, hangat dan dimasak tepat saat memang mau makan.

Berikut foto sebagai barbuk makanan masakan rumah ala India. Sayangnya, ini baru ingat untuk memfoto di tengah-tengah makan.

20130907-125111.jpg