Mie Kari dari Thailand Utara

Khao Soi

Nama resminya : Khao soi atau khao soy (Thai: ข้าวซอย [kʰâw sɔːj]). Makanan khas Thailand Utara ini rupanya mendapat pengaruh yang besar dari Burma. Kalau menurutku sendiri, khao soi adalah pelipur lara saat menginginkan kari ayam. Tinggal bawa lonton aja kalau mau makin terasa “lebaran”.

Khao Soi ini lebih enak yang ayam, meski ada versi babi. Kuahnya santan drngan berbagai bumbu yang salah satunya pasti kunir soalnya kuahnya warna kuning. Memang Khao Soi ini akan jadi enak saat sudah dicampur dengan kondimen-kondimennya.

Kondimennya ada bawa merah segar, sambal dengan minyak berlimpah, jeruk nipis dan sayur asin (sepertinya). Aku selalu suka menambahkan bawang, jeruk dan sambal. Ngga pernah menambahkan sayur asinnya karena ngga enak sama sekali.

Khao Soi paling enak memang ditemui di Sukhumvit 38, warung ujung kanan. Tapi si daerah makan siang perkantoran juga sering ditemui khao soi. Seperti di food court Empire Tower, Sathorn. Dijual di stall kecil dengan signage gambar Ibu-Ibu. Sungguh mengingatkan pada ayam goreng Ny. Suharti.

Bangkok dan City Farming

Sebuah list mengenai City Farming di Bangkok dikeluarkan oleh BK.Asia-City.com kemarin. Salah satu hal yang membuatku senang tinggal di Bangkok, selain apartemenku itu, adalah perasaan hidup di tempat yang lebih hijau dengan udara yang terasa lebih bisa dibuat bernafas apabila dibandingkan dengan Jakarta. Sehingga saat artikel mengenai City Farming ini muncul, di kepalaku langsung muncul @RahnePutri dan Goro serta Mande dan Booi. Mereka ini adalah orang-orang yang selalu suka bicara soal tanaman atau soal kota yang hijau.

Goro adalah seorang pegiat urban farming. Dia menceritakan kepadaku apa yang dia lakukan di rumah. Begitu juga dengan Booi yang anaknya tuh taneman banget, meski ya ada taneman yang ngga selalu bertumbuh dan berkembang di rumahnya. Sementara Mande, berhubung dia anaknya arsitek banget, dia suka barang hijau-hijau dan eksperimen dengan kehijauan.

Rahne sendiri adalah seorang gadis yang konsisten dalam hal menyukai taman. Aku pikir ini semua karena dia anaknya romantis-romantis gitu dan taman selalu punya asosiasi mellow-mellow yellow. Syukurlah dia sekarang sudah punya pasangan sehingga bisa mewujudkan impian pacaran di taman. Rahne sendiri mengorganisasi Piknik Asik, komunitas main di taman Jakarta. Jakarta gitu, dengan taman yang tidak banyak tapi komunitas ini konsisten main di taman saat ada waktu.

Bersama Rahne, pernah mencita-citakan membuat kegiatan : GREEN BOMBING. Masalahnya kata BOMB dan Jakarta itu agak kurang cakep kalau disandingkan. Secara Indonesia sering banget ya dikait-kaitkan dengan pembom. Tapi sebenarnya bukan itu masalah kami tapi masalah semua yang ingin terlibat kurang konsisten dan sibuk sendiri-sendiri.

Anyway, dari list di atas, aku mendukung dan sangat menyukai konsep Raitong – Munching Box. Kita bisa subscribe sebuah box yang setiap minggunya dikirim ke rumah. Box tersebut akan berisi dengan berbagai hasil bumi yang organik dan tentu sesuai dengan apa yang ada pada minggu itu. Diusahakan setiap minggunya memenuhi syarat 5 warna : Kuning/Orange, Merah, Hijau, Biru atau Ungu dan Putih. Rasanya senang sekali apabila mendapatkan buah dan sayur yang organik langsung dari petani yang tentunya akan mendapat untung lebih besar dari pada kalau diganggu tengkulak.

Begini ini yang aku harapkan segera ada di Indonesia.

 

Bobo Siang

20130813-143130.jpg

Ini adalah post coba-coba apakah terhubung dengan path atau tidak!

Dan rupanya masih juga tak terhubung 😉

Anyway, aku selalu bertemu dengan anjing ini di sore hari saat akan pulang ke apartemen. Anjing yang dipelihara oleh gelandangan di bawah jembatan penyeberangan. Anjingnya tidak ramah tapi juga tidak agresif. Rupanya dia tidur di antara dedaunan ini supaya tidak kepanasan di saat Bangkok sedang panas dan lembab luar biasa.

TV, Ada dan Tiada

Sejak pindah ke Bangkok, aku memutuskan untuk tidak berlangganan cable TV dan kemudian sekalian tidak punya TV. Awalnya merasa cukup takut dengan keputusan ini karena aku merasa tidak mau ketinggalan serial di TLC atau Food Network. TV pun aku bawa dari Indonesia tapi tidak terpakai dan akhirnya dibawa pulang lagi oleh Ibuku.
Continue reading TV, Ada dan Tiada

Bucket List

Kayanya semua orang saat heboh bilang bucket list nganu-nganu, aku ngga pernah tergoda bikin bucket list. Entah kenapa, ide bucket list ngga menarik. Kaya sudah setting hidup sebelum benar-benar mengalaminya.

Setelah tinggal di Bangkok, terasa perlu melihat lagi list hal-hal yang pernah terucap ingin dilakukan atau dimiliki. Mungkin waktunya bikin flexible bucket list. Bisa berubah di saat aku ingin dan bisa ngga jadi di saat ngga ingin.

Tinggal di Luar Negeri
Bangkok
– London. Siapa tahu mendadak butuh tambahan Putri trus aku diangkat jadi salah satu Putri Kerajaan Inggris
– New York. Biar membuktikan aja yang ada di tv serial itu
Singapore
– San Fransisco
– Chile

Jalan-jalan
– Kathmandu
– Copenhagen
– India (bagian selatan)
Hanoi
– Machu Pichu
– Canada
New York
Washington DC
Boston
– Paris
– Tokyo
Kanazawa
– Raja Ampat
Sydney
Aceh
– Toba
Manado
Kalimantan
– Derawan

Melakukan Hal-Hal
Diving
Snorkeling
– Berlayar
– Sky Diving
– Naik Balon Udara
– Berbahasa Spanyol
– Punya batik super bermakna tapi ngga buat dipakai karena sayang
Nginep di sungai
– Tinggal di pedalaman buat ngapain gitu
Tinggal di apartemen
– Naik gunung yang serius
– Body boarding
– Naik Trike
– Panjat Tebing

Beberapa lain akan ditambahkan saat ingin atau teringat!

Hidup di Apartemen Ukuran Studio

Aku suka sekali apartemenku. Fitur terbaik dari hidup di Bangkok adalah apartemenku. Disebutnya condo oleh orang Thai tapi maksudnya ya begitu lah, rumah-rumah kecil di dalam gedung besar. Sepertinya aku tidak akan pernah mau lagi tinggal di rumah yang grounded, lebih enak di apartemen atau communal house gitu.
Continue reading Hidup di Apartemen Ukuran Studio