Mati Rasa

Aku merasa makin ke mari, makin mati rasa. Makin tua, makin mati rasa.

Bukan berarti makin ngga kepo ya. Sejujurnya aku ini sangat amat kepo. Ingin tahu urusan orang. Seharusnya ini yang mati bukan rasa.

Rasa
/ra·sa / n

1 tanggapan indra thd rangsangan saraf, spt manis, pahit, masam thd indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri thd indra perasa);
2 apa yg dialami oleh badan: — pedih dan nyeri di perut merupakan gejala sakit lambung;
3 sifat rasa suatu benda: gula — nya manis;
4 tanggapan hati thd sesuatu (indra): — sedih (bimbang, takut);
5 pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar: — adil;– tak mengapa hidung dikeluani, pb orang yg kurang pikir atas sesuatu yg terjadi pd dirinya sehingga mendapat susah juga;

KBBI menjelaskan beberapa arti dari RASA. Merasai tidak hanya soal fisik tapi soal batin. Soal batin ini dia yang sepertinya makin lama, makin menghilang.

Dulu, selalu ada suara kecil yang mengingatkan untuk berbagi, untuk berpikir bagaimana perasaan orang lain bahkan untuk mengutamakan orang lain. Sekarang, suara itu melemah. Suaranya seperti hilang tertelan bisingnya jalanan atau obrolan orang-orang.

Kalau boleh aku menyalahkan, aku menyalahkan ini itu. Misalnya, didustai oleh orang yang paling dipercaya. Suara yang berkata, “Selalu percaya dan pikirkan yang baik mengenai orang lain,” menjadi pudar dan memelan. Diganti dengan tidak percaya dengan orang lain.

Aku pun menyalahkan pertambahan manusia di bumi ini. Sumber daya berkurang sehingga manusia berebutan jadi yang pertama hanya supaya dapat bertahan hidup. Manusia makan manusia lain. Makan hak orang lain. Makan jalan orang lain. Makan jatah orang lain. Jadilah manusia makin egois. Suara yang dulu berkata, “Berbagi supaya makin kaya,” jadi memelan. Berganti dengan cara picik menjegal.

Tidak aman lagi. Tidak bisa merasai lagi. Takut memberi. Takut mencinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge