Ngomongin Bus Kota di Surabaya

Beberapa hari ini aku naik angkot + bus kota. Takut pertamanya, kebanyakan cerita serem soal angkutan umum di Surabaya. Tapi waktu dijalanin, ya biasa aja. Dapat supir angkot yang baik-baik, berhenti depan Petra. Lanjut naik bus kota sampai Westin. Sudah deh, sampai di kantor. Sepanjang naik kendaraan umum, aku jadi lihat berbagai hal yang perlu diperbaiki :
  1. Posisi Halte
  2. Beberapa halte tidak diletakkan dengan pusat keramaian yang ingin dicapai oleh pengguna bus dan angkot. Contohnya yang di jalan a yani. Mengapa tidak diletakkan dekat CITO? Mengapa diletakkan di dekat semua pabrik yang udah ga berbentuk lagi. Saya juga ga yakin kalau itu pabrik, abis itu bangunan tua yang ga jelas apa itu. Paling pas peletakan halte adalah yang di sebelah Tunjungan Plasa 1 dan dekat Royal Plasa. Posisi teraneh ada di jalan Embong Malang. Sebab busnya ga mungkin berhenti di situ kemudian melanjutkan rutenya. Ckckck... Waktu menentukan posisi halte, pake mobil sih ga pake bus jadi hasilnya ga optimal. Mungkin saran terbaiknya : Mbok research dengan cara diikuti rutenya, jadi ngerti perasaan dan enak ga enaknya naik bus/angkot.
  3. Posisi Zebra Cross
  4. Biasanya setelah naik angkutan umum, penumpang hobi nyeberang supaya bisa sampai ke tempat tujuan. Sudah sewajarnya kalau posisi zebra cross dan halte angkutan umum (apa aja) itu berdekatan.
  5. Kebersihan Trotoar
  6. GELI banget liat trotoar di Jalan Embong Malang Surabaya itu. Bagus bahannya tapi ga ada perawatan. Hitam-hitam bekas air yang dibiarkan menggenang. Seandainya seminggu 3 kali dibersihkan setiap malam. Pasti trotoar itu ga akan sehitam sekarang *sigh*
  7. Bentuk Bus
  8. Sayang banget padahal bisa bentuk bus yang udah kaya tong beroda itu diperbaiki. Kursi dipersedikit dan ditambah ruang untuk berdiri dengan syarat ketinggian bus tidak seperti sekarang. Menurut saya bus yang di Singapura itu enak banget. Rendah dan banyak ruang untuk berdiri. Jadi yang muda-muda GA MALES dan duduk aja tapi mesti berdiri! Apalagi kalau di dalam bus ada tombol yang dapat digunakan untuk memberi tanda pada supir bus kalau kita mau turun. Turun di halte yang benar tentunya!
  9. Jumlah angkutan umum
  10. Kebanyakan angkutan umum = ngetem makin lama. Berhubung penumpang makin sedikit karena pada bawa sepeda motor maka itu angkot-angkot dan bus makin asik aja berhenti di sembarang tempat dan ngetem bagai jalan milik sendiri...
Entah kenapa ya, ngerasa sayang aja potensi masyarakat yang naik kendaraan umum tuh besar tapi sayang kalau ga dikelola dengan baik kaya sekarang ini. Kadang yang bikin kesel adalah masyarakatnya juga terlalu, minta bus/angkotnya berhenti sesuka hati. Jalan dikit aja ga mau, malessss banget. tsk!
Loading mentions Retweet

Comments (0)

Leave a comment...

 
Got an account with one of these? Login here, or just enter your comment below.
Posterous-login    Connect    twitter