Ngomongin Keinginan Versus Kebutuhan
Dari pagi dihadapkan pada kepastian bayar tagihan. Mulai dari uang kos, uang sekolah sampe isi bensin. Lalu dihadapkan lagi pada kepastian tidak ada uang. Hahaha.. Jarang-jarang ya curhat kalau ga punya duit. Biarin, blog aku sendiri kok. Ndak minta dikasihani kok. Soalnya ga punya duitnya kesalahan sendiri. Ga bisa ngatur uang, pengennya senang-senang terus.
Kebutuhan ama keinginan selalu menang keinginan. Terutama dalam hidupku. Bukannya berhemat, malah sekarang aku minum di Starbucks sembari menunggu jam 3.55 untuk menonton Surrogates. Jadi sebenarnya ada uang atau tidak? Ada sih, tapi digunakan tidak sesuai urutan prioritas. Urutannya harusnya Uang Sekolah - Uang Kos - Uang Jajan. Tidak seperti sekarang, Uang Jajan - Uang Jajan - Uang Jajan.
Bagaimana sih memprioritaskan penggunaan uang kita? Mudah saja. Apa prioritas hidup anda sekarang ini? Sekolahkah? Bersenang-senangkah? Atau kawinkah? Terserah anda. Tapi prioritas praktis kadang berupa keinginan, prioritas teoritis baru berupa kebutuhan. Namun banyak kali kan kita ngomong ke orang lain kalau kita punya prioritas ini dan itu, yang mana biasanya prioritas teoritis. Pada akhirnya, apakah anda ingin menjadi manusia yang omongannya dapat dijadikan pegangan atau memang berkeinginan jadi manusia yang omongannya tidak dapat dipercaya? Nah itu kembali pada anda. Pada saya, rupanya saya sedang senang jadi orang yang omongannya tidak bisa dipegang.
Saya tidak bijak? Memang. Moral cerita? Jangan bodoh seperti saya.

