Ngomongin Tahun Indonesia Kreatif dan Komik

Kemarin di Cergamboree, ada forum untuk berdiskusi tentang penerbitan independen. Sebuah diskusi menarik karena semakin banyak komikus yang percaya diri untuk menerbitkan sendiri atau menerbitkan melalui sesama teman komikus lain. Bukan trend tapi melakukan apa yang harus dilakukan. Secara kalau ngikutin penerbit besar, mati terperas. Udah susah-susah gambar, hasil yang masuk tidak sesuai penjualan. Di toko buku banyak yang cari dan toko buku udah request buku, penerbit bilang : buku habis dan tidak diproduksi lagi. Tapi waktu di penerbit, komikus dibilang : buku ga laku dan banyak retur. Duh pembohong semua emang kok ya. Saya percaya sama pemilik toko buku. Mengapa? Karena kenal dekat dan mana ada sih orang yang jualannya laku bohong gitu? Sebenarnya ini adalah gambaran bagaimana Tahun Indonesia Kreatif 2009 ini merupakan salah satu bentuk pemerasan pemerintah terhadap rakyatnya. Pemerintah melihat potensi uang yang besar di industri kreatif tapi tidak menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai. Fasilitas apa saja sih?
  1. Pajak : kurangin gitu pajak untuk ekspor ke luar negeri. Industri desain grafis dan cetak pasti senang. Karena negara-negara seperti Singapura itu menurutku membutuhkan, tapi kalau ekspor mahal, ya malas. Indonesia punya teknologi cetak yang baik tapi orang Singapur lebih memilih mencetak di Taiwan karena kalau ditotal semua, endingnya lebih murah cetak di Taiwan. Sedih kan.
  2. Penentuan harga diskon untuk toko buku : ini ada hubungannya dengan mafia-mafiaan ya. Mbulet lah kalau diceritain. Toko buku selalu minta harga distributor. Harga distributor itu biasanya harga buku - beberapa persen. Beberapa persen inilah yang jadi masalah. Di toko buku besar, berapa persennya bisa sampai 50% dan mereka tidak menyediakan diskon untuk pembelinya. Di toko buku besar tapi baik seperti Uranus dan Toga Mas, mereka hanya meminta 35% dan menyediakan diskon untuk pembelinya sebesar 20% jadi senang kan ngasih persenannya
  3. Beasiswa : belajar lagi supaya karya lebih baik.
  4. Infrastruktur : kalau orang lebih melek internet, jualan buku ga perlu lewat toko buku. Online aja. Tapi di Indonesia, infrastruktur untuk internet masih belum baik dan merata. Selain itu kalau jalanan di Indonesia lebih baik, distribusi buku bisa sampai ke Sabang sampai Merauke. Apalagi kalau jalur distribusi bisa disupport sama pemerintah.
  5. Aparatur Negara Ga Suka Mbulet: Salah seorang teman membagikan pengalamannya. Dia ditawari untuk mengerjakan salah satu proyek komik pemerintah dengan dana besar, tapi tidak jadi dia kerjakan. Sebab untuk mengambil dana itu, prosesnya panjang dan berbelit-belit. Tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh pak SBY katanya. Hell! DOH.. dasar bawahan, sukanya iri, kerjaan ga beres semua!!!
Hal yang sudah baik di negara kita adalah dalam hal meminta ISBN. Prosesnya ga terlalu belibet dan ga butuh biaya besar, paling buat fax. Di Prancis, pemerintahnya menyediakan beasiswa untuk mereka-mereka yang berbakat. Bisa belajar LAGI, berarti S2 atau S3 di luar negeri. Susah memang mendapatkan beasiswanya, tapi masih mending di Prancis mereka tahu kalau mau apply harus kemana daripada kita ga tau mau apply kemana.
Loading mentions Retweet

Comments (0)

Leave a comment...

 
Got an account with one of these? Login here, or just enter your comment below.
Posterous-login    Connect    twitter