Pantai Ora di Pulau Seram, Maluku

Santai kaya di pantai. Yes, itu misi utamaku waktu main ke Pantai Ora. Selain memang sakau jalan-jalan, lihat pantai. Pantai Ora ini dikabarkan Maldivesnya Indonesia. Kalau lihat foto-foto memang sih airnya yang biru dengan penginapan di atas airnya sangat menggoda iman (yang memang mudah tergoda ini). Di blog post ini aku akan menceritakan perjalananku menuju Pantai Ora dengan selipan tips-tips kecil yang cukup perlu dinote.

Aku diajak temanku Rendy yang akan ke Pantai Ora bersama 2 pasangan lain. Dia mengajakku karena tidak ingin sendirian menatap pasangan-pasangan pacaran. Langsung setuju ikut setelah googling-googling dan memang main bareng Rendy itu enak. Mengapa? Karena dia akan jalan bareng Uwy, nah Uwy ini punya reputasi: suka mengurus tetek bengek. Jadi jalan-jalan bener-bener cuma tinggal bawa badan, transport dan akomodasi sudah ada yang urus. Beli tiket pesawat sudah sejak Mei untuk perjalanan di Agustus. Teman-teman malah sudah beli sejak lama, jadilah mereka bisa naik Garuda dengan harga super miring.

Perjalanan ke Ora

Setelah terbang dari Jakarta tengah malam dan sampai di Ambon jam 5 pagi, kami masih akan ke pelabuhan Tulehu naik kapal ferry. Kapal ferrynya cukup seru, karena ombak lumayan membuat goyangan menarik. Apalagi tante-tante Ambon yang berteriak meski ombaknya tidak terasa. Seru selama 60 menit.

Sudah sampai? Beluuumm… Ini baru sampai di Pelabuhan Amahai di Masohi. Dari Amahai, kita naik kendaraan. Berapa jam? Aku lupa. Melintasi Pulau Seram, kita sempat ketemu sama orang Seram. Enaknya, naik kendaraan ini kamu sudah siap dengan mixtape dan kabel usb ke tape. Dari pada musti dengar lagu kesayangan Bapa-Bapa Ambon, lebih baik persiapan dilakukan dari sekarang! Hahaha. Apalagi jalanannya bagai roller coster yang penuh kenangan. Jalanannya sudah bagus menurutku, hanya ada sedikit yang kurang apik.

Setelah naik mobil sudah sampai? Beluuummm… Kita sampai di Desa Saleman. Di warung ada jualan minuman dingin dan berbagai cemilan MSG. BELILAH. Karena di Ora Beach Resort tidak ada minuman selain yang disediakan saat waktu makan. Cemilan pun penting karena sambil leyeh-leyeh, ngemil msg is de best! Di warung itu pun dijual indomie goreng atau kuah. Membawa kebahagiaan tapi hari itu kami sudah makan ikan bakar jadi tidak tertarik untuk makan indomie.

Di Desa Saleman, ada kapal-kapal kecil milik nelayan yang akan membawa kita ke Pantai Ora atau lebih tepatnya Ora Beach Resort di seberang. Kira-kira aku sampai di Pantai Ora pada jam 3 sore.

Tidur Santai di Ora Beach Resort DiMULAI

Perjalanan panjang tidak sia-sia setelah melihat pemandangan ini:

 

Loading

Ora Beach Resort, Molucas, #Indonesia

View on Instagram

Tidak bisa dipungkiri, bahwa Ora Beach Resort ini cantik sekali. Seperti berada di depan lembah dan menghadap laut. Laut yang masih jernih dan bersih. Sangat menyenangkan.

Ada beberapa catatan penting buat teman-teman yang akan menginap di Ora Beach Resort:

  1. Bawa air minum sendiri. Karena air hanya disediakan saat jam makan saja.
  2. Bawa baterai cadangan. Lampu menyala dari jam 6 sore sampai kira-kira jam 6 pagi.
  3. Bawa alat snorkeling sendiri. Alat yang ada di sana bisa dibilang tidak layak dipakai.
  4. Bawa handuk sendiri. Bukannya tidak disediakan tapi persiapan saja kalau-kalau merasa ingin pakai handuk sendiri.
  5. Bawa shampoo, sikat gigi dan odol. Karena di sana hanya disediakan sabun.
  6. Signal hanya ada di dekat sign Ora Beach Resort, selebihnya signalnya buruq sekali.
  7. Bawa camilan sendiri. Karena setelah berenang-renang pasti pengen ngemil-ngemil dan tidak ada yang jualan di sekitar Ora Beach Resort. Mbak yang jaga pun galak serta cuma akan ngeliatin kamu aja saat kamu minta tolong dicarikan air kelapa.

Nah catatan ini penting supaya ekspektasi kamu tidak terlalu tinggi. Mengingat bayar lebih dari 1 juta semalam. Sebenarnya kalau dihitung-hitung jadi tidak mahal karena transportasi dari bandara sampai Pantai Ora semua sudah ditanggung. Pastikan juga kenal betul atau tahu betul nama dari orang yang mengurus penginapan. Karena sempat ada momen dimana kami terkatung-katung di Desa Saleman menunggu entah siapa yang menjemput. Diajak oleh nelayan sekitar untuk ke Pantai Ora tapi harus membayar lebih, berhubung ogah rugi, maka kami menanti saja di Desa Saleman sambil makan kemilan.

 

Loading

Halo pasangan yang sedang pacaran di kano…

View on Instagram

This trip was fully paid by Google Indonesia. These are my honest opinions on the product and I ONLY post on products that I enjoy and would spend my own money on. Thanks for your support!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge