Twitter Life

Akhir-akhir ini lagi senang mencoba-coba tools untuk menganalisa kehidupan pertwitteran saya. Pakai Klout.com yang pertama 

Screen_shot_2011-02-01_at_4

Screen_shot_2011-02-01_at_4

Lalu pakai TwitterCounter 

Screen_shot_2011-02-01_at_4

Lalu pakai Twitter APA GITUUU 

Screen_shot_2011-02-01_at_2

 

Tambahan Posting :

Kata @tikabanget tool terakhir namanya twittalyzer. Hore! Terus pas dicek @qronoz ternyata Kloutku jadi 69. UUHHH YEEAAAH!

Screen_shot_2011-02-01_at_6

Terus ya, tweet inspiratifku tadi pagi diRT sama @pwgdochi terus jadinya RAMEEEE banget mentionku, pada ngeritwit. Sumpah deh, hari ini kehidupan twitterku ok banget!

Screen_shot_2011-02-01_at_6

 

Alay dan Trending Topic dan Brand

Sejak kapan sih trending topic twitter dikuasai Indonesia? Semenjak Alay-Alay bersatu dan memutuskan untuk ngetweet yang unyu-unyu dan yang ngga unyu. Salah satu contohnya adalah hari ini. Dimana terdapat beberapa alay yang ngetweet aneh-aneh lalu menjadi trending topic twitter, WORLDWIDE ya.

Screen_shot_2011-01-10_at_1

Ngga salah dong kalau banyak brand yang pengen ngetap si alay-alay gembira ini. Siapa tahu produknya jadi trending topic, di dunia gitu. Tapi ya, buat apa sih trending topic? Secara yang suka ngecek trending topic adalah orang-orang tertentu. Iseng banget ya ngetweet-ngetweet lalu buka-buka trending topic. Ngetweet juga dari hape, yang mana susah liat trending topicnya. Paling yang suka buka trending topic tuh kita-kita, ahensi atau orang yang keponya di atas rata-rata. Ini rata-ratanya di atas orang Indonesia kebanyakan yang pada dasarnya emang kepo loh ya. Bahkan aku rada sangsi apakah semua twitter user tahu tentang Trending Topic.

Lalu ngapain dong brand ikut-ikutan ngetweet? Jawabannya tuh sudah jelas dan sudah banyak dibahas di berbagai artikel di internet ini. Mulai dari jawaban ngaco sampai jawaban yang pakai teori-teori atau pun hasil research. Intinya sih, brand ngetweet dan bersocial media itu hanya untuk mencapai :

GAYA YANG ABADI

Serius, intinya sih semuanya gaya. Dari dulu brand pakai ngiklan dan bikin CSR dan segala macamnya, buat apa? Buat gaya, dilihat bahwa dia maju dan beradaptasi dengan apa yang terjadi.

Apakah mencapai status gaya yang abadi adalah hal yang salah atau buruk? Jelas tidak. Karena memang kita juga seneng kok jadi konsumen dari sebuah produk yang gaya dan beradaptasi dengan kita. Cuma emang, ngga perlulah mengharapkan trending topic. Ngga ada gunanya, kecuali emang mau gaya yang abadinya makin pol. Lagian ya, orang juga ga bakal beli sesuatu karena, “Eh, aku beli makanan ini ah, soalnya makanan ini udah masuk trending topic booow….” 

Tapi ada tambahan penting dariku mengenai brand yang ikutan bersocial media :

  1. Harapkan orang mendengar keberadaan brandmu di social media.
  2. Orang tuh yang penting tahu dulu kalau brandmu punya akun di twitter, facebook dan mungkin blog. Jadi kalau ada apa-apa nantinya, kamu bisa disummon.

  3. Harapkan orang mau memberi saran atau pun kritik mengenai produk atau jasa yang disediakan olehmu.
  4. Soalnya ini hal yang paling penting. Orang tuh pakai google loh untuk tahu produk yang akan mereka beli. Kalau di google dan komentarnya jelek semua, ya udah lah ya, jangan ngimpi barang atau jasanya diborong. Lagian, sudah bagus loh orang mau nulis review tentang kamu. Aku saja, kalau ngga ngefans-ngefans amat, maleeesss nulis tentang sebuah produk. Serius.

  5. Jangan berharap orang langsung beli barang atau jasamu hanya karena mereka follow akun twitter atau ngelike facebook page brandmu.
  6. Lumayan muluk yaaa harapannya. Soalnya di internet atau social media ini, hal utama yang dicari adalah rekomendasi. Produk atau jasa yang banyak direkomendasikan untuk dibeli baru akan banyak yang beli. Nah gimana supaya orang merekomendasikan? Simple, dengarkan apa yang dibicarakan orang-orang di internet ini lalu perbaiki kualitas barang atau jasamu.

Demikian, inti sari pati pikiranku siang ini. Maaf kalau sotoy dan ketauan ga tau bedanya brand sama barang sama jasa.

 

 

 

 

 

Koprol buat Alderina

Suatu hari ada sebuah woro-woro di Plurk dari Mbak Ollie tentang Koprol. Pada saat itu Mbak Ollie punya beberapa invitation untuk menjadi anggota awal Koprol. Berhubung aku selalu mendaftar di segala macam situs demi mengamankan username, maka aku minta diundang masuk Koprol. Kesan pertama? Senang! Ada sebuah jejaring sosial yang mengutamakan lokasi dan berasal dari Indonesia. Pada waktu itu, aku mulai memainkan brightspot namun tidak banyak mengeksplorasi karena keterbatasan Google Maps di masa-masa itu. Sehingga kehadiran koprol, bagaikan angin segar.

Aku berada di posisi sekarang karena Koprol. Koprol membantuku untuk percaya bahwa ada banyak orang baik. Tidak semua orang nyinyir. Salut banget sama Satya yang sudah membuat pengguna merasa di ‘rumah’ dan memiliki Koprol. Seakan kita bagian dari developer Koprol padahal cuma pengguna biasa. Satya juga yang menginspirasiku untuk menjadi seorang Community Manager atau Social Media Manager.

Pada awal Koprol berdiri, banyak penggunanya yang merupakan kelas menengah sehingga penggunaan blackberry adalah barang mewah. Kadang sangat tergida untuk mengatakan, “Please mind your own business.” Terutama ketika ada banyak komentar kurang menyenangkan ketika aku sedang check in di sebuah tempat makan yang memang harga makanannya mahal. Padahal makan di sana juga hanya ketika ada acara khusus.

Memilih private atau public? Keduanya sudah pernah kucoba. Prinsip Koprol adalah share and discover. Ketika kita memilih private maka potensi-potensi Koprol jadi tidak optimal dan buat user baru, bakal ngga asik banget dah. Kenapa user baru? Karena user baru biasanya belum ada teman dan lewat koprol kamu bisa ketemu teman-teman baru yang lokasinya ada di sekitar kamu. Koprol itu justru fun ketika kita berada di 1 lokasi kemudian check in. Koprol ngga seru kalau cuma berada di 1 tempat dan mantengin timeline. Aku pernah kaya gitu soalnya, waktu jaman bikin skripsi :((

Sudah memilih Public? Bagus! Tapi hati-hati ya. Menggunakan koprol butuh kedewasaan untuk tidak check in di lokasi-lokasi tertentu pada saat-saat tertentu. Terutama buat perempuan. Perhatikan dimana kamu berada, dengan siapa dan waktu posting atau check in. Kalau sudah malam dan sendirian, lebih baik jangan check in. Sebisa mungkin check in di tempat ramai kalau sendirian dan ada satpamnya. Kalau di lingkungan tempat tinggal tidak banyak yang memakai Koprol, lebih baik jangan check in di tempat tersebut. Bisa jadi ketika rumah kosong dan kita kelepasan ngomong rumah kita kosong, memancing kejahatan.

Sekarang aku berada di posisi private. Mengapa? Karena aku tidak tahan dengan komen kurang menyenangkan ketika aku check in dan posting di satu tempat. Lebih baik kuprivate dan dunia jadi lebih nyaman. Karena tidak ada yang lebih penting dari kenyamanan kamu dalam menggunakan segala macam situs.

Buatku Koprol adalah tempat untuk menyatakan eksistensiku (secara pernah jadi cover Koprol) dan belajar mengendalikan diri.

Koprol buat Alderina

Suatu hari ada sebuah woro-woro di Plurk dari Mbak Ollie tentang Koprol. Pada saat itu Mbak Ollie punya beberapa invitation untuk menjadi anggota awal Koprol. Berhubung aku selalu mendaftar di segala macam situs demi mengamankan username, maka aku minta diundang masuk Koprol. Kesan pertama? Senang! Ada sebuah jejaring sosial yang mengutamakan lokasi dan berasal dari Indonesia. Pada waktu itu, aku mulai memainkan brightspot namun tidak banyak mengeksplorasi karena keterbatasan Google Maps di masa-masa itu. Sehingga kehadiran koprol, bagaikan angin segar.

Aku berada di posisi sekarang karena Koprol. Koprol membantuku untuk percaya bahwa ada banyak orang baik. Tidak semua orang nyinyir. Salut banget sama Satya yang sudah membuat pengguna merasa di ‘rumah’ dan memiliki Koprol. Seakan kita bagian dari developer Koprol padahal cuma pengguna biasa. Satya juga yang menginspirasiku untuk menjadi seorang Community Manager atau Social Media Manager.

Pada awal Koprol berdiri, banyak penggunanya yang merupakan kelas menengah sehingga penggunaan blackberry adalah barang mewah. Kadang sangat tergida untuk mengatakan, “Please mind your own business.” Terutama ketika ada banyak komentar kurang menyenangkan ketika aku sedang check in di sebuah tempat makan yang memang harga makanannya mahal. Padahal makan di sana juga hanya ketika ada acara khusus.

Memilih private atau public? Keduanya sudah pernah kucoba. Prinsip Koprol adalah share and discover. Ketika kita memilih private maka potensi-potensi Koprol jadi tidak optimal dan buat user baru, bakal ngga asik banget dah. Kenapa user baru? Karena user baru biasanya belum ada teman dan lewat koprol kamu bisa ketemu teman-teman baru yang lokasinya ada di sekitar kamu. Koprol itu justru fun ketika kita berada di 1 lokasi kemudian check in. Koprol ngga seru kalau cuma berada di 1 tempat dan mantengin timeline. Aku pernah kaya gitu soalnya, waktu jaman bikin skripsi :((

Sudah memilih Public? Bagus! Tapi hati-hati ya. Menggunakan koprol butuh kedewasaan untuk tidak check in di lokasi-lokasi tertentu pada saat-saat tertentu. Terutama buat perempuan. Perhatikan dimana kamu berada, dengan siapa dan waktu posting atau check in. Kalau sudah malam dan sendirian, lebih baik jangan check in. Sebisa mungkin check in di tempat ramai kalau sendirian dan ada satpamnya. Kalau di lingkungan tempat tinggal tidak banyak yang memakai Koprol, lebih baik jangan check in di tempat tersebut. Bisa jadi ketika rumah kosong dan kita kelepasan ngomong rumah kita kosong, memancing kejahatan.

Sekarang aku berada di posisi private. Mengapa? Karena aku tidak tahan dengan komen kurang menyenangkan ketika aku check in dan posting di satu tempat. Lebih baik kuprivate dan dunia jadi lebih nyaman. Karena tidak ada yang lebih penting dari kenyamanan kamu dalam menggunakan segala macam situs.

Buatku Koprol adalah tempat untuk menyatakan eksistensiku (secara pernah jadi cover Koprol) dan belajar mengendalikan diri.

Twitter Buat Alderina

Sign up pada 26 November 2007 karena dikasih tahu @BramPitoyo. Pertama kali punya account twitter, ngga ngerti dimana serunya, enaknya atau senengnya. Follow cuma beberapa orang yang aku ngga benar-benar tahu siapa. Apalagi pada waktu itu, koneksi internet di rumah masih pakai dial up dan ngga tiap hari manteng internet. Jadinya akun twitter dianggurin aja. Malah sibuk main di blogger.com kalau ada kesempatan pakai internet. Berkelana ke sana dan kemari, baca blog orang. Lalu pada suatu saat, entah kapan, aku follow @mahadewa dan dia mau follow aku juga. Lupa ingat, apakah follow pertama kali di Plurk atau di twitter. Pastinya senang sekali ada orang Indonesia juga yang ngetweet. Sumpah dulu cupu banget, ngga ngerti kalau twitter juga sudah ada orang Indonesianya. Hahahaha…

Setelah follow @mahadewa maka mataku terbuka dan baru tau ada @aulia dan @jtug ^_^ JTUG dulu seru sekali, isinya cuma lempar-lemparan panci sama ngobrol absurd entah kemana. Sekarang sih sudah banyak yang ngga ngetweet. Dari JTUG juga makin banyak orang yang tahu tentang twitter. Ngga memungkiri kalau lewat #IndonesiaUnite maka Twitter jadi dikenali. Buat aku sih ini positif-positif aja. Mungkin karena gerakan yang mempopulerkan Twitter adalah gerakan nasionalisme maka sekarang-sekarang ini banyak banget politisi dan teman-teman yang suka politik ngumpul di twitter dan ngobrol ngalor-ngidul sak karepe mereka. Well, emang terserah mereka sih, akun mereka ini. Ga suka ya unfollow aja, beres. Secara aku juga kalau ngetweet isinya random mampus.

Di twitter, aku bertemu dengan banyak orang hebat. Orang-orang yang ternyata pekerjaannya tuh keren-keren tapi di twitter dengan santainya kutoyor-toyor. Ada beberapa teman twitter yang sudah lama temenan tapi aku baru tau profesi mereka setelah bertemu. Bodohnya kadang aku tanya aja gitu ke mereka, “Loh, emang kamu tuh kerjanya apa?” Kadang ada yang ngga jawab dengan jujur tapi jawab passion mereka dan baru tahu kerjaan sebenarnya dari mereka waktu buka Linkedin. Terkaget-kagetlah diriku. Lalu memahami mengapa tweets mereka sering kali brilian, menarik dan inspiratif.

Dari twitter aku belajar banyak sekali tentang mempercayai orang lain. Dengan menggunakan twitter, kamu akan selalu terhubung dengan orang yang ada di sebelah sana dan kamu akan berpikir bahwa dia adalah sahabat terbaik kamu. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Bahwa setelah cukup lama menggunakan twitter, aku semakin belajar bahwa ada banyak orang dengan karakter berbeda yang tidak selalu sepaham. Ada waktunya untuk follow dan ada waktunya untuk unfollow. Tidak semua orang di twitter wajib jadi teman kamu. Tidak semua orang yang follow kamu ataupun kamu follow itu sepaham denganmu. Mungkin terdengar biasa saja, tapi kalau sudah ngetweet dan lupa daratan, prinsip ini sering dilupakan orang. Tidak perlu memaksakan diri untuk menyukai apa yang orang lain sukai.

Berat buatku ketika mengetahui bahwa orang yang selama ini kupikir adalah teman yang baik ternyata memiliki pemahaman yang berbeda tentang ini dan itu. Kemudian dia tidak lagi mengajak ketemuan, atau TU atau Tweet Up. Rasanya tertolak dan aku bukan orang yang bisa menerima penolakan dengan baik. Aku suka sekali bertemu dengan orang baru dan berteman serta berharap kalau orang baru itu juga akan suka denganku dan mau berteman denganku. Tapi kembali kepada prinsip bahwa tidak semua orang sepaham.

Ada juga waktu-waktu dimana aku merasa dikerjain sama semua orang di twitter yang bilang aku artis twitter. Mungkin pada saat itu, nyinyir sedang menjadi trend baru sehingga ada waktu-waktu dimana aku merasa dinyinyiri. Yah itu pilihan tiap orang sih mau nyinyir atau engga. Tapi ada juga yang tulus bercanda tanpa ada tendensi nyinyir. Semuanya aku jawab dengan cara yang sama, semua aku anggap bercanda saja. Secara emang bukan artislah, apalah, apalah di twitter. Dari pada stres merasa dinyinyiri padahal diajak bercanda atau merasa dibercandain padahal dinyinyirin. Hal yang paling penting ketika berada di situasi abu-abu adalah tetap positif dan lihat orang lain sepositif mungkin. Kalau masih kesulitan, segera unfollow. Hidup kita harus diisi dengan hal-hal positif dan jangan sampai twitter malah bikin kita jadi bete, marah, ngga asik dan macam-macam.

Twitter buat Alderina adalah lahan belajar tentang diri-sendiri. Tempat aku mengenal bahwa tidak semua orang dapat dan harus sepaham denganku. Dimana kenyataan bahwa manusia bisa bersikap lain di depanmu atau di belakangmu. Buatku twitter bukanlah dunia maya, bukan hal yang tidak real. Twitter sangat real buatku.

Facebook Like di Posterous

Wah, sekarang kasih tanda LIKE atau jempol tidak perlu bersusah payah 😀 Seperti yang diumumkan di Mashable kalau FB semakin melebarkan diri dan menggurita dimana-mana. Maka Posterous cepat-cepat deh mengadopsi “like”. Seperti yang sudah muncul di alderinagracia.com ini loh :

C57335

Artikel di bawah ini perlu dibaca teman-teman, supaya bisa memahami dan menjaga diri terutama masalah keamanan pribadi 🙂

Facebook Open Graph: What it Means for Privacy

At Facebook’s F8 Developer Conference today, the company fleshed out its plans to become the social center of the web. With the new Open Graph API and protocol and the ability to integrate websites and web apps within your existing social network, the platform will become more robust than ever before.

The potential for this new technology is great — which is why partners like Yelp (Yelp

), Pandora (Pandora

) and Microsoft have already jumped on board. But what does all of this interconnected data mean for user privacy?
 
Privacy has always been a bit of a thorny issue for Facebook and its users. In November of 2007, Facebook’s Beacon advertising experiment resulted in a class-action lawsuit, and Facebook’s big privacy overhaul in December provoked immediate criticism. The company’s more recent change to privacy settings for Facebook apps has been better received, but the user response to Mark Zuckerberg’s “public is the new social norm” stance has already forced the company to overhaul its privacy policy again — this time with user input.

Now that sites and apps can better integrate directly with Facebook (Facebook

) in more than just a tangential way, the potential for privacy issues grows substantially.

What Is Changing?

In the past, apps that accessed data from the Facebook APIs could only store that data for 24 hours. This meant that apps and app developers would have to download user information day after day, just to keep up with the policy. Now the data storage restriction is gone, so if you tell an app it can store your data, it can keep it without worrying about what was basically an arbitrary technical hurdle.

While this might sound scary, it doesn’t actually impact how developers can use user data, just how long they can store it. Again, many developers were just hacking around this policy anyway, so users shouldn’t notice any changes.

Facebook is also getting rid of its Facebook Connect branding. Instead, Facebook login modules will be available to site owners, and users can not only log in or sign up for a service, but can also see how many of their friends have also signed up for the site.

Now, this new feature is cool — as is the universal Likes and customized content additions — but it also makes what you designate as “public” potentially more public.

While the login boxes and activity feeds that appear on websites will be customized for each user (meaning that what I see on a page will differ from what fellow reporter Jenn Van Grove sees), this information is potentially more easily viewable than it was before. It’s not like your Facebook friends couldn’t see this information in the past, it’s just now a lot more contextual and available in more places.

Privacy Will Become the User’s Responsibility

I took a look at the different documentations of the Open Graph API and the different social plugins, and gathered that the data collection and overall privacy settings don’t differ from what has already been available. Again, what changes is how that data can be displayed to different people and how it can be integrated in different ways.

Nevertheless, it is imperative that users who have concerns about privacy make sure they read and understand what information they are making available to applications before using them. Users need to be aware that when they “Like” an article on CNN, that “Like” may show up on a customized view that their friends see.

Public no longer means “public on Facebook,” it means “public in the Facebook ecosystem.” Some companies, like Pandora, are going to go to great lengths to allow users to separate or opt out of linking their Pandora and Facebook accounts together, but users can’t expect all apps and sites to take that approach. My advice to you: Be aware of your privacy settings.

What isn’t yet clear is if there will be any granular permissions for public data. For instance, I might want to share that I “Like” a CNN.com article with a certain group of people, but not make it public to my entire social graph. For now, users need to assume that if you do something that is considered public, that action can potentially end up on a customized stream for everyone in your social graph.

How Facebook Can Avoid Getting Burned

Because there aren’t really any changes in policy with the Open Graph system, Facebook will likely avoid any massive privacy violations; after all, if you agreed to make something public, it’s public. However, as Google learned with Google Buzz, users aren’t always aware of their default privacy settings.

Facebook can offset a lot of confusion and concern by doing a good job of educating users about the meaning of “public” and how the personalized feeds will work on various websites.

Developers can also help by making what information they collect and what information can be shared throughout the social graph more accessible and easier to understand.

Right now, it really doesn’t look like Open Graph will have any technical changes to Facebook user privacy. That said, the nature of how public information can be linked across different sites is now more robust, which makes it that much more important for the privacy-concerned to read the fine print.

What do you think of the privacy implications with Open Graph? Let us know!

 

Blog Action Day : Poverty? Miskin? Ataukah Pola PIKIR?

Setelah diingatkan Koko (terima kasih), aku membuka emailku dan menyadari kalau aku terlambat untuk ikut BLOG ACTION DAY. Lebih baik terlambat daripada tidak berbuat apa-apa…

Memang judulku terdengar aneh. Sebab, memang aneh. Ceritanya aku juga bingung mau nulis apa tentang kemiskinan. Di jaman serba aneh gini. Secara mungkin sekali orang yang dulu kaya raya karena saham sekarang sedang miskin raya karena harga saham dia super jatuh. Nah, makanya aku pikr kemiskinan adalah pola pikir kita. Bisa saja seseorang banyak uang tapi miskin di otaknya.

Apa sih tanda miskin?
Hanya satu dan satu saja. TIDAK DAPAT MEMBERI.

Kemarin ketika saya mengisi bensin, saya melihat di depan stasiun pengisian BBM ada sebuah putar balikan dan seorang mas-mas sedang membantu mobil-mobil memutar. Saya perhatikan, orang yang ngasih dia duit itu adalah supir truk, supir mobil onggrek (udah mau copot semua), terus juga supir mobil2 jelek. Mobil-mobil bagus tidak ada satupun yang membuka kaca mobil ataupun menganguk tersenyum ataupun berucap terima kasih. Sungguh… Aku jadi mikir, supir itu kan juga bukan orang kaya raya yang lagi nganggur terus nyupir truk (eh tapi bisa aja ya?) namun dia malah berbagi dengan temannya, berbagi dari yang sedikit itu merupakan sebuah KEKAYAAN yang sangat luar biasa.

Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau kemiskinan itu ada dan menurut aku harus segera dientaskan. Lewat apa? Terus terang, aku juga bingung. Kesempatan kerja banyak tapi juga banyak orang yang tidak memenuhi kualifikasi. Sampai sekarang cara terbaik adalah melalui pendidikan yang baik dan mengutamakan keseimbangan, tidak hanya otak tapi hati dan jiwa juga sehat.

Media_httpblogactiondays3amazonawscombannersbadge300x160jpg_obpiviaqcjccnca