Menemui Raja Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (#BorneoTrip Part 2)

Aku mengunjungi 3 tempat yang merupakan Feeding Site untuk Orangutan. Setiap lokasi punya Raja masing-masing dan karena Orangutan mengenal konsep teritori jadi Orangutan RT 01 ga boleh nyari makan di RT 02. Apalagi Rajanya, ga ada tuh konsep bertetangga yang baik, mereka saling bete kalau ada jantan daerah sebelah yang main-main di teritori dia. Nah, sebenernya soal memberi makan Orangutan, manusia dilarang memberi makan secara langsung. Mengapa? Karena akan mengubah cara Orangutan memandang dunia, si Orangutan jadi suka nyolong makanan dari kita karena dikira emang begitulah alam dan konsep ambil atau diberi mereka kan sederhana saja. Maka dari itu ada Orangutan yang udah kelamaan main ama manusia jadi ngga takut sama manusia lalu main ubek-ubek tas. Nah anehnya, Orangutan tuh selalu tertarik sama botol minuman kita terutama yang merek AQUA, pengen nyamber terus aja dese…

Pada dasarnya Orangutan tuh takut sama manusia. Padahal kitanya takut sama Orangutan yak, ga tau aja dia. Jadi makanya kadang dia jadi agresif saat kita membuat gerakan mendadak atau dirasa mengancam olehnya. Orangutan peka banget dan bisa tau kita sebenarnya gimana. Jadi ketika kita main ke feeding site Orangutan, ada beberapa aturan yang harus diikuti :

  1.  Jangan ribut, kalau bisa diem karena sebenatnya keberadaan kita sudah menganggu mereka makan
  2. Jangan ada di antara Orangutan Jantan dan Betina. Siapa tau si jantan pas pengen kawin terus kamu ada di antara dia dan betina yang mau dikawinin, bahaya banget karena dianggap orang ketiga.
  3. Jangan menyentuh Orangutan karena begitulah adanya di alam dia ngga disentuh-sentuh manusia.
  4. Tetap berada di jarak aman dengan Orangutan, sekitar 3-5 meter.
  5. Jangan membuat gerakan mendadak. Kalau takut lebih baik mundur tapi kalau berani lebih baik menantang sekalian.
  6. Semua barang tolong dimasukkan tas. Karena Orangutan di semua feeding site sudah cukup paham bahwa tas tidak boleh diubek-ubek tapi kalau di tangan ada barang yang menarik, bisa direbut sama dia. Kamera juga ngga menarik buat mereka, udah biasa banget sepertinya lihat kamera.

Several Rules on Orangutan Feeding Site

Feeding site pertama adalah Tanjung Harapan. Masih terletak di dalam Taman Nasional Tanjung Puting, di dalam site ini ada sebuah Demplot yang ditanami tanaman obat dan disapu baik-baik supaya tidak dipenuhi dengan pacet.

Disapu

Biasanya kita harus jalan 800 meter atau 1 kilo untuk masuk ke panggung tempat memberi makan  dan harus mengikuti timing yang sudah ditentukan oleh ranger setempat. Biasanya waktu memberi makan itu dari jam 9 pagi atau jam 3 sore. Makanan yang diberikan adalah pisang karena murah meski pun pisangnya musti import karena ga tumbuh di sekitaran Taman Nasional Tanjung Puting. Dalam perjalanan menuju  panggung makan buah, aku menemukan sebuah fakta bahwa tanah di sana itu pasir, putih dan haluuusss gitu.

Borneo is a Huge Sand Island

Perjalanan ngga terlalu jauh karena melewati jalan setapak yang dihiasi pepohonan. Sebuah pengalaman baru buatku karena berada di antara pepohonan tanpa merasa kedinginan. Kelembabannya memang cukup merepotkan karena jadi keringatan dan aku sarankan bawa handuk kecil.
Walk to the Orangutan Feeding Point

Nah sampai di Tanjung Harapan Feeding Site. Aku duduk manis sambil melihat Ranger menuangkan pisang di sebuah panggung. Ngga lama, ranger-rangernya teriak-teriak ala Orangutan, namanya Long Call. Jadi ada nada dan suaranya yang mengisyaratkan buah sudah siap, silakan dimakan. Ga lama kemudian ada suara grasak-grusuk dari atas dan ternyata Orangutan sudah mulai hadir.

Hadir dari Atas Pepohonan

Gimana sih suasana makan bareng dan gimana sih Tanjung Harapan? Silakan ceki-cek Flickr set khusus Tanjung Harapan 🙂

 

Oh iya, di Tanjung Harapan ini aku pertama kalinya bertemu dengan Raja Orangutan (daerah tersebut) yang memang ukuran badannya besar dan punggungnya seperti Bapak Tua Berotot!

Perjalanan Bertemu Raja Orangutan (#BorneoTrip Part 1)

Pengalaman yang sangat amat menyenangkan selama berada di Kalimantan Tengah! Mulai dari pengalaman menyusuri sungai, bertemu orangutan, melihat kunang-kunang, memandangi bintang, makan masakan rumahan di kelotok, mandi air sungai dan tidur di kelotok. Semuanya mengesankan dan memberi kenangan indah tentang Kalimantan. Catatan perjalanan ini akan dibagi-bagi dalam beberapa blog post supaya mudah dibaca dan lebih lengkap ceritanya 🙂

Aku memulai perjalananku pada Kamis, 14 Juni 2012 dari Soekarno-Hatta International Airport, Cengkareng dengan Trigana Air.

Fly with Trigana Air

Perjalanan ini merupakan inisiatif Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memromosikan tujuan-tujuan wisata dalam negeri kepada teman-teman. Nah kali ini perjalanannya bersama dengan blogger (Priyadi, Rendy, Uci, Travel Junkie ID, Ismanhs, Dona, Barry) dan media (Metro TV : @kerigit dan @larasap). Ditemani oleh Pak Edy Hendras, peneliti yang sekarang tinggal di Bogor tapi dulu adalah asisten Ibu Profesor, sungguh beruntung ada Pak Edy karena jadi mendapat cerita-cerita pengalamannya saat menjadi peneliti Orangutan. Serta ditemani oleh teman-teman dari Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sebuah perjalanan yang membuat kami jadi dekat dan aku mendapatkan teman-teman baru!

Sampai di Iskandar Airport, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan selamat dan langsung foto-foto!

Iskandar Airport (PKN) in Pangkalan Bun, Central Borneo

Dari Bandara rombongan diarahkan untuk langsung ke Pelabuhan Kumai. Pelabuhan ini yang menghubungkan Pangkalan Bun dan Taman Nasional Tanjung Puting. Di Pelabuhan Kumai, kami mendapat sambutan tari dan silat ala Kalimantan Tengah dari penduduk lokal. Bapak-bapaknya udah tua tapi kuat gitu gerakan patah-patahnya dan penarinya sudah tua-tua gitu juga tapi kuat loh. Penari-penari ini bisa setiap malam menari ketika ada festival di Kalimantan Tengah, dan festivalnya berlangsung semingguan gitu.

Di Pelabuhan Kumai, aku pertama kali mengetahui soal Kelotok dan jatuh cinta secara otomatis! Aku akan tinggal dan hidup di kelotok ini selama 3 hari. Pelabuhan Kumai berada di Sungai Kumai atau kadang disebut sungai besar, yang akan membawa kami masuk ke Sungai Sekonyer, akses untuk masuk ke Taman Nasional Tanjung Puting. Di ujung Sungai Sekonyer, terdapat spanduk besar sambutan tapi masih print dan kabarnya akan dibagusin.

The Orangutan King is Welcoming Us

Sebuah adat ketika pertama kali masuk ke jalur sungai di Kalimantan, pendatang harus mencuci muka dengan air di sungai tersebut. Jadi setiap akan masuk ke sungai, kita akan cuci muka. Jadi lah di “gerbang” tersebut aku cuci muka dengan air dari sungai tersebut. Biasa aja, ngga terasa gatal atau gimana. Nah, di Sungai Sekonyer, vegetasinya berubah-ubah. Pertama adalah pohon Nipah. Pohon yang jadi tempat tinggal kunang-kunang, jantung pohonnya dapat dimakan oleh orangutan dan daunnya bisa buat atap.

Pohon Nipah

Menurut aku yang lucu itu di Sungai Sekonyer terdapat rambu-rambu lalu lintas. Jadi sungai pun jadi semacam jalan serta ada aturan-aturannya dan ada polisi yang jaga. Salah satu aturan buat kapal ketika menemui belokan adalah kapal yang memasuki sungai harus melipir ke pinggiran sungai berbentuk tanjung dan kapal yang keluar dari sungai harus melipir ke pinggiran sungai berbentuk teluk.

River Road Sign at Tanjung Puting National Park

Yang paling seru dari perjalanan adalah SAAT MAKAN! Soalnya makannya di atas kelotok dan masakan Ibu Kelotok enak banget! Sambelnya juara. Padahal tempat masaknya lumayan ngga asik. Lunch di Kelotok, sungguh menyenangkan! Pada saat makan siang ini, kami sudah berada cukup dalam di Sungai Sekonyer dan sudah mulai dapat melihat-lihat monyet. Hohohoho. Juga vegetasinya mulai berubah, jadi Pohon Pandan. Bukan pandan buat masakan seperti kita biasanya ya, tapi Pandan besar-besar. Katanya sih daunnya suka ditarik sama Orangutan lalu di bagian bawah yang dekat dengan batangnya disesap dan rasanya manis. Kalau si pandan berbunga, bakal wangi dan memang wangi bunga begitu 😀 Enak!

Lunch at Kelotok

Part 1 berakhir di sini, tunggu part selanjutnya ya tentang petualangan di Borneo 😀 Hore!

Ah iya, untuk info lebih lanjut soal jalan-jalan di Indonesia bisa cek Indonesia.Travel dan atau follow Twitter @IndTravel