Tenang

Tenang

Sepertinya di masa COVID-19 seperti sekarang, semua orang menjadi rasa tenang. Karena rasa tenang berarti ada rasa aman, ada rasa nyaman, dan ada rasa kelegaan. Sama sepertiku. Sejak awal COVID-19 rasanya tidak tenang, pikiran loncat ke sana, ke sini, panik, dan takut. Manusia, menghadapi sesuatu yang baru langsung responnya negatif.

Indonesia baru mengakui COVID-19 masuk di Maret 2020. Padahal sejak Januari 2020, diduga sudah ada orang Indonesia yang terkena tapi belum resmi dilaporkan. Baru diakui pada Maret 2020 karena ada orang Indonesia yang bertanggung jawab melaporkan diri pernah bertemu dengan WN Jepang yang positif COVID-19. Sungguh pada waktu itu huru-hara terjadi, tidak ada penghormatan terhadap privasi orang yang melapor. Bagaimana dengan sekarang? Di Indonesia, ada 153ribu kasus, ini per tanggal 23 Agustus 2020.

Lalu bagaimana aku menanggapi semua ini?

Awalnya? PARNO GILAK. Keluar rumah pakai sarung tangan, pakai masker, pakai jaket khusus. Semua baju disemprot alkohol, lepas di ruang tamu, mandi di bawah. Pokoknya PARNO BANGET.

Sekarang? Engga tahu, rasanya engga tahu.

Apakah aku merasakan ketenangan? Jelas tidak, karena otak itu lompat-lompat terus ngga selesai-selesai ngomong. Apalagi suami baru aja masuk ke RS karena DBD. Jadi ngga cuma COVID-19 yang harus kita perangi, DBD juga lagi merajalela. Syukurlah dua kali swab (masuk dan keluar), suamiku negatif COVID-19. Langsung lega sekali. Eh tapi terus gimana dong soal ketenangan ini?

Jadi karena satu dan lain hal, Kinanthi Publicity harus ditutup, aku sekarang pengangguran. Karena pengangguran itu tidak mungkin, maka aku menjalankan bisnis yang sudah pernah aku jalani yaitu bisnis MLM, yaitu Young Living Essential Oils. Mengapa aku kerjakan bisnis ini? Karena ini yang ada di tanganku saat ini. Teman kerjaku, Iru, pernah berkata, “Apa yang ada di tanganmu dijalankan dengan sebaik-baiknya, siapa tahu berkahnya ada.” Dimana pernyataan ini aku aminkan sekali. Karena ini selaras sama kata Alkitab,

“Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga.”

Pengkotbah 9:10a

Lalu ada beberapa alasan lain kenapa aku kerja Young Living ini, misalnya:

  1. Aku sangat amat aku suka banget sama oilnya, banget nget nget.
  2. Sewaktu 2017 aku mulai mengerjakan Young Living, aku merasa senang.
  3. Aku sudah punya teman-teman oilers di grup Sehat Alami.
  4. Percepatan secara penghasilan ternyata luar biasa.
  5. Terpenting: aku berbagi produk yang baik untuk orang lain, tidak menipu, dan baik untuk bumi.

Jadddiiiii apakah kemudian aku jadi tenang? OH YA GAK GITU CARANYA. Tenang itu mesti diusahakan setiap hari, apalagi kalau habis selesai dari trauma semacam tutup kantor (rasanya ku gagal gitu), dan COVID-19 (yang kaya ga ada ujungnya gini). Lalu apa dong yang aku lakukan supaya mencapai ketenangan yang diharapkan?

Langkah-langkah mencapai rasa tenang:

  1. Janganlah ngarep-ngarep akan merasakan tenang. Hahaha. Ini kontradiktif ya? Tapi semakin ke sini semakin merasa kalau perlu ga ada ekspektasi supaya ga stress, ga sedihhh.
  2. Membuat rutinintas harian. Misal: bangun di jam sekian, minum teh atau kopi di jam sekian, nyiram tanaman jam segini, bekerja sampai jam sekian.
  3. Selalu menyediakan waktu untuk bersantai, jalan kaki, atau bersepeda.
Alderina + Leci bersepeda

Semoga dengan melakukan langkah-langkah kecil yang bisa aku lakukan, aku bisa lebih tenang. Terkontrol perasaan gelisah dan segala macam. Oh iya, aku pakai essential oils, jelas, tapi bukan untuk bikin aku tenang tapi untuk bikin aku lebih balance dan dengan jadi balance, semoga jadi tenang. Kan ga mungkin ya kalau aku sekarang serius di Young Living terus aku ga pakai oil, tapi kalau ditulis di nomor 1 pakai oil, nanti dikatain jualan padahal niatnya sharing. Hahaha. Repot memang jadi netizen masa kini.

Disclaimer: blog post ini sifatnya sharing ya, aku bukan dokter dan psikolog. Sebaiknya konsultasilah ke psikolog ataupun psikiater untuk analisa dan saran yang lebih tepat.

Menjahit Masker Kain, Melawan Penyebaran Corona

Menjahit Masker Kain, Melawan Penyebaran Corona

Semenjak wabah COVID-19 merebak di Jakarta dan Indonesia, keluarga kecilku memutuskan untuk tinggal di rumah dan jaga jarak dengan orang-orang lain. Dengan beragam informasi yang kami dapatkan,  kami harus banyak menyaring. Tapi sepertinya melakukan tindakan mencegah selalu lebih baik dari pada mengobati. Apalagi kapasitas tenaga medis untuk merawat kita sudah tidak mencukupi, baiknya sebagai manusia waras dan eling, kita jaga diri. Salah satunya dengan menggunakan masker kain.

Cari tahu pola masker kain yang bisa kamu jahit sendiri…
Lanjutkan membaca “Menjahit Masker Kain, Melawan Penyebaran Corona”

Tunjuk-Tunjuk, Bisik-Bisik

Ya sih.

Saya lebih beruntung

dari jutaan orang Indonesia lainnya.

Tapi jam kerja saya selalu lebih

dari jutaan orang Indonesia lainnya.

Problem ketika lampu sorot baru menyala

ketika keadaan sudah baik.

Sebaik-baiknya lampu sorot dinyalakan juga

saat keadaan sulit dan tidak baik-baik.

Supaya orang tidak cuma

tunjuk-tunjuk

atau

bisik-bisik.

H-5

Entahlah. Semakin lama, semakin konyol rasanya. Peristiwa 2 orang berkomitmen di hadapan Tuhan harus dipertontonkan di depan banyak orang supaya dibilang sah. Tidak lagi merupakan peristiwa yang dekat dan hangat dengan beberapa orang. Tapi itulah Indonesia dengan segala jenis manusianya. Salah sendiri kenapa tidak pandai sehingga tidak punya kemampuan pindah ke luar negeri.

Hari ini pekerjaan yang berhasil selesai: Lanjutkan membaca “H-5”