H-5

Entahlah. Semakin lama, semakin konyol rasanya. Peristiwa 2 orang berkomitmen di hadapan Tuhan harus dipertontonkan di depan banyak orang supaya dibilang sah. Tidak lagi merupakan peristiwa yang dekat dan hangat dengan beberapa orang. Tapi itulah Indonesia dengan segala jenis manusianya. Salah sendiri kenapa tidak pandai sehingga tidak punya kemampuan pindah ke luar negeri.

Hari ini pekerjaan yang berhasil selesai: Continue reading “H-5”

H-6

Waktunya update penampilan. Seharusnya ini aku lakukan H-30 agar tidak terlalu mepet. Apa boleh buat hidup tidak mengijinkan hal tersebut terjadi. Di enam hari menjelas THE DAY, aku memotong rambutku dan mengecat ulang agar tidak ada warna-warna aneh di ujung rambut.

Mempercayakan tatanan rambut ke mas Waris, salah satu top stylist Irwan Team Hair Design di Pondok Indah Mall. Awalnya aku ingin potong rambut saja lalu ke Irwan Team Hair Design di Gandaria City untuk update color dengan Mas Anto (langgananku untuk color). Tapi kemarin waktunya tidak mengijinkan, jadi lah sekalian 1 kali jalan.

Senang sekali dengan hasilnya! Terima kasih Irwan Team Hair Design.

Alderina Potong Rambut Waris Irwan TeamAlderina Terima kasih Waris di Irwan Team

H-7 PRENUP atau Perjanjian Pra Nikah (Pisah Harta)

H-7 adalah hari dimana perjanjian pra nikah atau akta prenup aku selesai diproses. Banyak orang yang berpikir bahwa membuat perjanjian pra nikah adalah sesuatu yang tabu. Katanya kok bersiap cerai padahal baru akan menikah. Padahal bukan hanya itu fungsi perjanjian pra nikah.

Perjanjian pra nikah atau prenup sangat berguna untuk pasangan yang salah satunya memiliki usaha sendiri. Mengapa? Karena perjanjian pra nikah pada dasarnya adalah perjanjian pisah harta. Harta suami dan harta istri merupakan harta masing-masing, mulai dari harta yang dibawa, sampai harta yang didapatkan selama menikah. Begitu pula dengan hutang. Hutang suami adalah hutang suami, hutang istri adalah hutang istri. Dengan logika ini, kalau usaha suami mengalami kebangkrutan, maka harta istri tidak terbawa. Sehingga ga perlu menggelandang. Eh menggelandang? Iya, kalau usaha bangkrut dan uang perusahaan tidak cukup, harta benda pemilik saham bisa turut terjual. Bayangkan, kalau sudah sisa rumah, lalu belum punya prenup, bisa-bisa rumah pun ikut terjual. Aku sama sekali mgga mau mengalami hal itu, makanya membuat perjanjian pra nikah.

Langkah pembuatan perjanjian pra nikah atau prenup:

  1. Menghubungi Notaris. Saya dibantu oleh Notaris Indah, sangat responsif dengan biaya tidak mencekik. Sepanjang saya tahu biayanya variasi dari IDR 2,500,000 sampai IDR 5,000,000.
  2. Menyerahkan fotokopi KTP calon suami dan calon istri.
  3. Mengevaluasi draft akta prenup atau perjanjian pra nikah. Isi perjanjian ini bisa dimofidikasi sesuai kebutuhan. Tapi lebih kurang isinya tentang pemisahan harta sebelum dan selama perkawinan.
  4. Menandatangani dan cap jempol akta prenup atau perjanjian pra nikah.
  5. Mendapatkan salinan untuk suami dan istri.
  6. Ke pengadilan untuk dicap pengesahan. Nah sebaiknya tidak perlu pakai calo. Pengadilan juga punya one stop center untuk keperluan memasukkan data dan meminta cap. Kamu hanya perlu datang dari jam 10.00 sampai 16.00, ambil nomor antrian (kategori hukum), dan menunggu giliran. Jangan lupa bawa fotokopi akta dan fotokopi KTP dari salah satu calon. Meski pun, kemarin aku minta cap pengesahan untuk 2 akta, dikenai biaya IDR 300,000. Tentunya uang diterima tanpa tanda bukti sehingga tidak jelas itu untuk siapa. Hahaha. Yah sudah lah. Makanya kenapa website pengadilan tidak menjelaskan bagaimana dan kemana harus mengurus cap pengesahan pengadilan ini. Oh iya, kira-kira aku 30 menit di pengadilan mengurus cap pengesahan.
  7. Fotokopi akta yang sudah dicap pengadilan.
  8. Daftarkan ke catatan sipil, saat mengurus akta nikah.

Selesai!

H-8

Decision Fatique. Belajar sesuatu mengenai keadaanku setiap jam 6 sore mendekati hari H. Wedding is not all nice and shiny. Banyakan repotnya dari pada bling-blingnya. Ritual yang satu ini sepertinya dibuat serumit mungkin oleh manusia. Mungkin karena di masa lalu kehidupan orang tidak banyak kegiatan. Sebetulnya ritual yang begitu rumit ini sudah kurang cocok dengan kegiatan manusia modern. Tapi apa boleh dikata, manusia selalu hidup di masa transisi, selalu hidup di masa perubahan.

“The idea for these experiments also happened to come in the preparations for a wedding, a ritual that seems to be the decision-fatigue equivalent of Hell Week.” – The New York Times

Hell Week di otak memang betul karena setiap hari harus ada keputusan yang diambil dan dijalankan. Aku merasa otak mogok kerja setiap jam 6 sore. Mau nonton video Youtube saja sudah tidak punya tenaga. Padahal apa susahnya menonton video Youtube?

Hell Week sendiri adalah istilah yang digunakan SEAL NAVY US untuk minggu latihan intens dalam kegiatan pelatihan seorang tentara.

Omong-omong, beberapa hal yang sudah selesai hari ini:

  • Tanda tangan Prenup Agreement atau Perjanjian Pra Nikah di depan Notaris Indah.
  • Merapikan alis mata.
  • Membeli sepatu untuk pengantin pria.
  • Budgeting event klien.
  • Budgeting digital media spending klien.
  • Membatalkan membeli Spanx karena rupanya tidak ada perubahan berarti dengan memakai Spanx.

Semoga Berkah Dalem selalu mengikutiku. 🙏🏼

H-9

Pelajaran pertama dari menikah adalah miliki informasi sebanyak-banyaknya dan kurangi beban pekerjaan.

Kadang-kadang kita ambisius atau berpikir kalau persiapan dilakukan jauh-jauh hari maka tidak perlu khawatir menjelang hari H. Ternyata tidak juga. Banyak vendor yang menggampangkan karena pernikahan dianggap masih lama, dikejar-kejar pun jawabannya menggantung lama sekali.

Jadi solusinya ya kita yang harus bisa sabar, menahan diri tidak mengambil pekerjaan mendekati hari H.

Blog post ini dipersembahkan oleh vendor dekor yang masih dinego karena menaikkan harga dekor tiba-tiba.

Semoga Berkah Dalem selalu mengikutiku.