Bekerja

Alderina dengan HP di Berlin

Kata orang bekerja punya waktunya sendiri, bersenang-senang punya waktunya sendiri. Apa yang terjadi saat kamu mengerjakan sesuatu yang menyenangkan? Ini yang sedang aku alami, mengerjakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi rasanya sangat aneh, sebenarnya apa yang sedang aku alami?

Sebelum resign dari kantor terakhir, aku dibayang-bayangi rasa gagal. Gagal karena tidak berhasil membuat sesuatu menjadi tren, gagal karena tidak berhasil mempertahankan sebuah hubungan, gagal karena tidak berhasil menciptakan sesuatu, dan perasaan-perasaan gagal lainnya. Aku pikir jawabannya adalah bekerja untuk diri-sendiri. Semua orang melakukannya, mengapa tidak aku mencoba bekerja untuk diriku sendiri? Demikian aku pikir waktu itu.

Rupanya motivasi ingin menjadi orang sukses karena pernah gagal ini tidak selalu menjadi motivasi yang paling baik. Terus terang, sepanjang hari, rasanya hidup ini tidak tenang, khawatir terus. Khawatir besok akan terjadi sesuatu dan sesuatu itu membuat apa yang aku kerjakan sekarang hancur berantakan. Lelahnya tidak karuan. Tentunya itu juga membuat orang lain merasa tercekik, karena aku memanifestasikan ketakutan ini dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan mendetail atau kontrol-kontrol tidak penting terhadap kerja orang lain.

Bekerja untuk hal yang disenangi adalah sebuah berkah. Memang menyenangkan, sampai ada titik dimana kamu melihat Instagram, yang kamu lihat adalah pekerjaan. Atau saat menonton video Youtube, otak kamu berkata, “Wah kamu bisa bikin yang seperti ini.” Kadang-kadang otak rasanya ingin diberhentikan agar tidak terus-terusan mengajakku berpikir atau mengeluarkan ide-ide dan lalu khawatir cara mewujudkannya.

Sebuah kenyataan menghantam aku hari ini. Sampai kapan mau khawatir?

Blog post ini ditulis saat aku sedang berbulan madu selama kurang lebih 1 bulan di Eropa. Paris – Brussel – Dordecht – Rotterdam – Eindhoven – Amsterdam – Berlin – Copenhagen. Di kota-kota ini aku bertemu dengan beberapa teman, orang Indonesia, yang sudah lama tinggal dan bekerja. Karena aku memang sangat suka mengetahui bagaimana manusia berinteraksi di bagian dunia lain, maka tentu saja aku bertanya bagaimana sistem bekerja dan cara pikir teman-teman bule mereka.

Satu hal yang sangat jelas adalah mereka menghargai diri mereka sendiri, menyediakan waktu untuk dirinya, dan tidak mencampur adukkan kehidupan pertemanan dengan pekerjaan. Sebuah praktek yang sangat asing buat orang Indonesia. Di Paris misalnya, temanku tidak tahu nomor telepon rekan kerjanya karena semua pekerjaan dilakukan lewat email. Di Indonesia? Hal pertama adalah tuker nomor HP, supaya bisa whatsappan, bahkan sampai berlibur bersama. Kantor bisa jadi rumah kedua.

Mana yang lebih benar, mana yang lebih salah? Entahlah. Aku rasa tidak bisa juga dipatok demikian.

Namun fenomena ini selalu bisa ditelusuri. Tebakanku sampai hari ini adalah PERSAINGAN. Di beberapa kota Eropa ini, mereka bisa dibilang tidak perlu bersaing, pekerjaan sudah seperti adalah hak asasi. Mereka hampir bisa dibilang tidak bisa dipecat karena ada undang-undang tenaga kerja yang hebat dan union yang berjaya. Di Indonesia? Persaingan begitu ketat, tenaga kerja sangat mudah digantikan. Untuk 1 pekerjaan ada ribuan orang yang berebut mendapatkannya. Sekali lengah, selalu ada yang siap menyambar. Demikian pula dengan perusahaan, persaingan usaha sedang gila-gilanya. Selalu ada perusahaan baru bertumbuh. Siapa kuat, dia menang.

Lalu, apa yang bisa diperbuat?

Belajar dan mengasah diri supaya terus pandai di bidang tersebut sehingga tidak ada yang bisa menggantikan kamu. 

Lalu, apa hubungannya dengan paragraf pertama di blog post ini?

Pertama: Menerima bahwa pekerjaan dan hal yang aku senangi adalah hal yang sama. Tidak bisa dilawan bahwa otak akan berpikir dan merancang setiap kali kamu bersama dengan yang kamu senangi.

Kedua: Menemukan orang yang sama-sama senang dengan hal ini. Bekerja bersama orang yang sama-sama senang dengan hal tersebut adalah berkah yang berlipat ganda. Karena selalu ada teman yang akan menguatkan. Belajar melepaskan orang yang tidak senang dengan hal ini. Karena akan melukai kedua belah pihak.

Ketiga: Belajar. Belajar menambah kemampuan, mengurangi khawatir. Karena akan lebih mudah khawatir kalau kita tidak yakin betul dengan kemampuan kita.

Keempat: Lakukan pekerjaan bukan lagi takut pada kegagalan sehingga ingin sukses tapi melakukan pekerjaan karena ingin mencipta. Beberapa tahun terakhir ini aku diketemukan dengan orang-orang yang sumber energinya adalah keinginan mencipta. Aku lihat hidup mereka memang jauh lebih tenang. Karena ya ingin mencipta, bukan membuktikan diri kalau tidak gagal. Gagal merupakan bagian dari proses mencipta.

Iklan

4 respons untuk ‘Bekerja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s